Oleh : Syarifatul Adibah
Kategori : Ruang Bermain

Miris, ditengah semakin berkembangnya zaman, berbagai campaign tentang hak anak digalakan, permainan anak, dan sistem pendidikan bagi anak, ditengarai keterbatasan ekonomi masih banyak anak Indonesia yang tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya. Ironi, tak hanya kesempatan bermain dan berpendidikannya yang dirampas, tak jarang mereka menjadi tulang punggung bagi keluarga. Sejak 1990 Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) khususnya United Nations Children’s Fund (UNICEF) merayakan hari Anak Sedunia, demi mengembalikan hak-hak anak yang harus dipahami masyarakat. Berbagai pihak didesak, tidak hanya Ayah ataupun Ibu, namun juga pemerintah, aktivis, dan media untuk terus berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang ramah bagi anak. Ada beberapa hak anak yang harus dipenuhi, beberapa yang utama adalah tumbuh kembang, partisipasi, pendidikan, dan kasih sayang. Naasnya, dikondisi bangsa yang sedang berkembang, menyebabkan banyak keluarga di Indonesia yang tak benar-benar sadar akan hal ini, tak jarang anak dijadikan alat atau media penghasil uang, terutama dikota-kota besar penggunaan anak dianggap dapat menaikan nilai humanis demi meraup untung yang berlimpah.

Tentu ini menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi pemerintah Indonesia,tidak hanya di kota-kota besar, pekerja anak dan anak jalanan tersebar di berbagai kota di Indonesia. Kasus demi kasus bermunculan disebabkan oleh pekerja anak dibawah umur, hal ini ditengarai skill yang dimiliki anak tidak cukup mumpuni dalam dunia industri, keterbatasan fisik dan kemampuan menjadi faktor utama. Seringkali seorang anak bekerja didasari oleh niat mulia dengan tujuan membantu perekonomian keluarga, naasnya hal ini seringkali diartikan salah kaprah, bekerja seringkali menjadi bumerang terhadap hak dan tumbuh kembang anak itu sendiri. Kebijakan dan pengawasan seperti apa yang seharusnya diterapkan oleh pemerintah Indonesia?

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) jurusan ilmu politik semester lima Muhammad Sarifin mengungkapkan keprihatinannya terhadap pekerja anak. Sebagai calon pemimpin, penerus dan pelurus bangsa, pendidikan menjadi hal paling dasar yang harus dienyam oleh anak Indonesia. Bicara soal anak-anak yang bekerja, Sarifin yang juga fasilitator forum anak DKI Jakarta ini mengungkapkan tentang hak dan kewajiban yang dimiliki seorang anak, besar dalam keluarga dengan kondisi perekonomian yang minim, tak jarang menjadikan anak memiliki kewajiban membantu orangtua terlebih dalam aspek ekonomi, namun diharapkan hal ini tidak menjadikan hak-hak anak terbengkalai. Menurut sarifin, anak-anak yang sudah disajikan pekerjaan dan nyaman dengan apa yang dilakukannya akan kehilangan motivasi untuk bersekolah, bahkan bermain. Meski tak sedikit anak yang tetap bersekolah dan bekerja usai sekolah, pekerjaan yang mereka lakukan sebagian besar menguras banyak energi seperti menjadi buruh ikan, pabrik, kernet, mengamen hingga paling tragis mengemis sangat menyita dan mengganggu tumbuh kembang serta pendidikan. Sarifin menambahkan, pemerintah seharusnya lebih tegas dalam memberantas perusahaan yang masih mempekerjakan anak dibawah umur, serta serius memberdayakan anak jalanan. 

“ Saat sudah disodorkan oleh realita bahwa mereka harus bekerja mencari uang, mereka akan kehilangan mimpi mereka. Dunia bagi mereka akan semakin sempit, dengan adanya pendidikan mereka akan lebih paham bahwa perjalanan mereka masih begitu panjang dan motivasi diri terisi penuh,” ujar Sarifin panjang lebar. Sarifin berharap dihari Anak Sedunia ini anak-anak dapat menerima hak nya dengan layak dan baik, baik dari pendidikan, tumbuh kembang hingga kasih sayang. Tak sekedar teori, pendidikan moral dan memiliki figure panutan yang baik sangat penting bagi anak. Peran orangtua, keluarga, pemerintah sebagai pembuat kebijakan diharapkan mampu mengarahkan masa depan anak terutama Indonesia dengan baik.

Mahasiswa Public Relations semester 5 London School Public Relations (LSPR) Aghnina Wahdini memaparkan, seorang anak sangat butuh ruang pemenuhan hak, terutama hak tumbuh kembang terlebih partisipasi. Sudah seharusnya anak memiliki ruang non-formal untuk meningkatkan kualitas diri, salah satunya dengan bermain. Dengan bekerja, sudah jelas waktu bermain anak akan terenggut, belum lagi anak-anak harus melakukan kegiatan yang tidak seharusnya untuk anak seusia mereka. Tidak hanya mengganggu fisik anak, tapi juga perkembangan psikologi.

“Anak tidak seharusnya dijadikan alat atau objek penghasil uang, mau tidak mau bekerja akan mengganggu tumbuh kembang mereka, sedangkan mereka masih pada era bermain dan belajar belum saatnya masuk ke era bekerja. Karna pada dasarnya mereka belum siap,” tukas Aghnina. Dihari Anak Sedunia Aghnina berharap anak-anak memiliki kebebasan dan menjadi generasi selektif serta tidak mudah terpengaruh. Tak hanya itu, Aghnina berharap anak-anak  jalanan terutama di kota-kota besar memiliki kehidupan yang lebih baik, perhatian lebih dari pemerintah dengan memberikan program ramah anak demi menciptakan generasi yang aktif dan partisipatif.

“Selamat hari anak Sedunia!” tutupnya.  
 

SHARE!

Syarifatul Adibah Terverifikasi

"#TGRCampaign"

Follow


2 Mading


Gadget Bukan untuk Anak di Bawah Umur

Kategori : Ruang Bermain

Minggu Ceria Belajar dan Bermain vol.12

Kategori : Ruang Bermain