Oleh : TGRCampaign
Kategori : Permainan Traditional

Oleh: Andrea Rahayu, Tim TGR

Teringat potongan memori 15 tahun lalu, kembali tergambar jelas lapangan dekat rumah selalu ramai oleh anak-anak usia 5-16 tahun. Mereka bukan bermain lari-larian, saling megejar ataupun tertawa karena membicarakan teman sebayanya, melainkan bermain permainan tradisional. Permainan tradisional kala itu tak pernah dicap membosankan. Kalah ataupun menang itu hal biasa bagi mereka.

Semua berbeda sekarang. Lapangan yang biasa di pakai bermain lompat tali, egrang, kelereng, bentengan, dan permainan lainnya saat ini telah menjadi tongkrongan anak-anak. Banyak dari mereka asyik memegang gadget-nya (gawai) masing-masing. Sedikit sekali kita temukan anak-anak yang berkumpul untuk memainkan permainan tradisional. Anak-anak lebih memilih jenis permainan modern yang bersifat instan dan sudah didigitalisasi.

Miris terasa ketika melihat kebanyakan anak balita (bawah lima tahun) saat ini telah terbiasa memainkan gawai. Mungkin karena sifatnya tradisional orang tua pun enggan mengajarkan kepada anak-anaknya. Dianggap kuno dan tidak menarik untuk dimainkan oleh anak-anak yang hidup di perkotaan. Padahal, permainan tradisional tidak kalah serunya untuk dimainkan bersama-sama teman sebaya.

Tetapi ada beberapa komunitas yang menjunjung tinggi hak anak. Salah satunya adalah Team TGR (Traditional Games Returns). Komunitas anak muda yang menggelar kampanye kembalinya permainan tradisional dengan slogan “Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar”. Terbentuknya TGR berawal dari sebuah ide sederhana akan keprihatinan terhadap anak-anak Indonesia yang hampir tidak mengenal lagi permainan tradisional.

Tim TGR mempunyai tujuan untuk mensosialisasikan permainan tradisional kepada masyarakat, melestarikan permainan tradisional serta mengembalikkan antusiasme anak-anak Indonesia untuk kembali bermain permainan tradisional di era modern ini.

Memanfaatkan fasilitas internet, lewat sosial media Tim TGR mempromosikan khusus kegiatan anak-anak di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Hal ini dimaksudkan untuk mengimbangi dampak negatif dari gawai yang mulai digemari anak-anak.

TGR mendapatkan dukungan dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KPP-PA RI) serta Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DPPAPP) bahwa memainkan permainan tradisional dapat memenuhi hak anak untuk bermain dan memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan yang positif dan kreatif.

Di balik cap kuno yang disematkan padanya, permainan tradisional memiliki manfaat untuk anak-anak yang sedang dalam fase pertumbuhan. Ada banyak jenis permainan tradisional anak Indonesia yang lambat laun jarang dimainkan. Jenis-jenis permainan tradisional tersebut memiliki manfaat masing-masing untuk membantu mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Untuk lebih mengingatkan dan membangkitkan kembali kecintaan kita terhadap jenis permainan tradisional, berikut informasi atau sedikit ulasan beberapa permainan tradisional anak Indonesia beserta manfaatnya untuk tumbuh kembang anak:

1. Congklak

Congklak adalah jenis permainan tradisional yang menggunakan papan lengkung berbentuk sampan. Papan congklak terbuat dari kayu, adapula yang terbuat dari plastik. Ukuran panjang papan bervariatif. Tiap papan congklak terdapat 16 lubang yang terdiri dari 14 lubang kecil dan 2 lubang besar. 14 lubang kecil bersusun berbanjar. Masing-masing banjarnya terdapat 7 lubang yang saling berhadapan. Dua lubang besar terdapat pada ujung kiri dan kanan papan congklak. Permainan ini hanya bisa dimainkan oleh dua orang. Masing-masing mempunyai satu kuasa atas satu banjar (7 lubang kecil) dan satu lubang besar. Tiap-tiap lubang kecil diisi dengan biji congklak. Biji congklak biasanya menggunakan cangkang kerang, biji-bijian, dan terkadang bisa juga menggunakan kerikil-kerikil kecil.

Masing-masing lubang kecil diisi dengan 7 buah biji congklak. Bila dihitung keseluruhannya, biji congklak akan berjumlah 98. Semantara, 2 lubang besar dibiarkan kosong hingga nantinya terisi biji congklak yang telah dijalankan saat permainan berlangsung.

Cara memainkannya, salah satu pemain menjalankan biji congklak dari banjar miliknya. Ia bebas memilih mau memulai dari lubang kecil yang mana terlebih dahulu asalkan tetap diambil dari lubang banjar miliknya. Biji congklak dijankan mengisi tiap lubang termasuk lubang besar hingga akhirnya terhenti pada lubang yang kosong. Bila terhenti pada lubang kosong yang di depannya adalah lubang kecil berisi biji congklak milik lawan, maka seluruh biji congklak yang berada di hadapan lubang kecil kosong tersebut berhak diambil alih. Begitu seterusnya hingga masing-masing lubang kecil pada masing-masing banjar habis. Penentuan pemenang dihitung dari jumlah biji congklak yang terkumpul di lubang besar. Pemilik jumlah biji terbanyak akan dinyatakan sebagai pemenang.
 
Manfaatnya :
Permainan tradisional congklak akan melatih otak kiri anak untuk berpikir. Permainan congklak melatih strategi mengumpulkan angka terbanyak agar bisa mengalahkan lawan. Sepertinya sederhana, namun ketika dimainkan otak kiri anak akan aktif dengan perhitungan numerik.

2Engklek

Engklek adalah sejenis permainan tradisional yang banyak dimainkan oleh anak perempuan. Meskipun kadangkala anak pria ikut juga memainkannya. Permainan ini dilakukan dengan cara membuat pola permainan pada tanah. Polanya beragam dengan bentuk aneka kotak-kotak. Tidak ada jumlah yang pasti untuk menentukan jumlah pemain. Namun minimal dimainkan oleh dua orang anak. Setiap pemain harus memiliki satu buah batu datar yang disebut dengan ucak. Batu datar yang digunakan beragam, bisa batu-batu bisa pula batu sisa-sisa pecahan lantai keramik. Masing-masing ucak diletakkan pada kotak yang ditentukan sebagai titik henti pertama (start).

Yang memulai pertama kali akan melemparkan ucak pada kotak secara berurutan. Lalu, setelah ucak dilempar pada satu kotak, pemain akan melompat pada kotak-kotak kosong lainnya dengan satu kaki. Pemain tidak boleh melompati kotak yang terisi ucak dan tidak boleh menyentuh garis-garis pada pola kotak. Permainan akan berakhir bila salah satu pemain dan ucak telah melewati seluruh kotak pada pola. Yang lebih dulu bisa melewati seluruh kotak dinyatakan sebagai pemenang.

Manfaatnya:
Permainan englek sangat bagus untuk gerak fisik anak. Permainan ini mendukung pertumbuhan anak terutama kecerdasan kinetiknya. Anak yang melompat dengan satu kaki pada permainan engklek akan berusaha menyeimbangkan tubuhnya dengan satu kaki. Lompatan yang dilakukan baik bagi proses metabolism tubuh anak dan juga dapat membantu untuk membakar kalori tubuhnya.

3. Benteng
Permainan ini dimainkan oleh 4-8 orang anak yang dibagi dalam dua tim. Sebelumnya harus ditentukan satu benteng yang berupa pilar atau tiang. Dua tim saling menyerang dengan bantuan lemparan bola. Tim yang tidak pernah terkena lemparan bola dan berhasil menyentuh badan benteng maka tim itulah yang dijadikan pemenang.

Manfaatnya:
Permainan ini sangat mengandalkan gerak tubuh yang lincah. Memainkan permainan ini sama halnya dengan berolahraga yang baik untuk kesehatan tubuh anak.
Itulah beberapa jenis permainan tradisional anak di Indonesia beserta manfaatnya. Tak salah bila anak memainkan berbagai permainan modern yang canggih dan sifatnya edukatif, tapi bila juga dikombinasikan dengan jenis permainan tradisional tentu akan memberikan manfaat yang lebih banyak lagi bagi tumbuh kembang anak.
 

SHARE!

TGRCampaign

"✨ Traditional Games Returns ✨ Est. 2016 Komunitas Permainan Tradisional Media Partner Anak Sahabat Main di Luar Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar! #TGRCampaign "

Follow


13 Mading


Serunya bermain Bas-basan!

Kategori : Permainan Traditional

CARA BERMAIN DAN MEMBUAT EGRANG BATOK KELAPA

Kategori : Permainan Traditional

PERMAINAN BENTENG / BENTENGAN

Kategori : Permainan Traditional

Kenali Congklak-mu

Kategori : Permainan Traditional

Permainan Tradisional di Era 2017

Kategori : Permainan Traditional