Oleh : ZhafranFayiz
Kategori : Liputan

Dewasa ini banyak sekali fenomena-fenomena social yang terjadi di masyarakat. Fenomena tersebut tidak hanya terjadi tatkalasenyampang, namun banyak fenomena yang terjadi secara berkesinambungan. Bahkan, fenomena tersebut sudah menjadi sesuatu yang lama kelamaan jika dibiarkan akan menjadi suatu budaya di masyarakat.  Fenomena yang saya angkat mengenai maraknya pekerja anak sebagai penjual stiker dan penjual buku yang ada di kawasan pasar senggol kota Parepare, Sulawesi selatan.

Anak-anak yang dimanfaatkan untuk menjadi sumber pendapatan keluarganya sebahagian besar masih berumur dibawah 18 tahun. Artinya, mereka masih berumur anak dan mesih memiliki hak-hak yang dijamin oleh negara bahkan telah disepakati oleh seluruh dunia dalam convention on the rights of the child. Untuk mencari tahu lebih dalam mengenai pekerja anak sebagai penjual buku dan stiker saya melakukan wawancara langsung terhadap beberapa anak yang menjadi “korban” dari fenomena tersebut. Untuk mengedepankan kepentingan anak saya menggunakan inisial “HR” sebagai anak yang berusia 9 tahun dan masih duduk dibangku SD kelas 3 disalah satu sekolah dasar negeri di kota parepare yang tidak jauh dari rumahnya. Saya membuka pembicaraan dengan HR dengan menanyakan apakah dia masih sekolah dan dijawabnya lancar dengan aksen khas anak parepare. Saya tertarik dengan HR Karena dia yang paling muda diantara yang lainnya. HR merupakan anak ke-3 dari 3 bersaudara yang semuanya menjalani pekerjaan sebagai penjual buku dan stiker. Buku yang mereka tawarkan memang rata-rata bertema agama. Lalu HR menceritakan kesehariannya yang harus menjalani kewajibannya sebagai siswa dan harus terbebani dengan berjualan buku. HR juga menceritakan “Kalau pulang sekolah jam 1 setelah itu jam 2 pergi mengaji atau langsung ke pasar senggol untuk menjual”. Saya berfikir untuk mendapat informasi yang lebih banyak dan mendalam tidak mungkin HR bisa menjelaskannya. Akhirnya saya juga mewawancarai kakak HR, sebut saja “IN” dia merupakan anak pertama yang sekarang sudah kelas 2 SMP dan “AN” yaitu anak kedua yang baru naik kelas 1 SMP. Dengan senang hati mereka menceritakan latar belakang keluarga mereka yang berasal dari keluarga yang kurang beruntung Karena ayahnya yang seorang tulang ojek telah meninggal dan hanya tersisa ibu mereka. Dari wawancara tersebut yang membuat saya sedikit mengusap dada ketika mereka menceritakan bagaimana ibu mereka memaksa mereka untuk mencari uang demi keluarga. Saya memang cukup dekat dengan mereka bertiga Karena mereka siring dating kerumah saya entah untuk meminta air minum atau hanya sekedar bertemu dengan orang tua saya yang sudah familiar dimata mereka. Ibu mereka adalah seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan tetap dan harus menanggung sendiri ketiga anaknya. Namun, ketika saya pergi melihat kondisi ibunya yang pertama kali muncul difikiran saya yaitu begitu teganya dia membiarkan anak-anaknya mencari uang sementara dia sendiri hanya santai-santai dirumah. Penampilannya terkesan glamour jika mendengar kesaksian dari anak-anak mereka. Dia terlihat menggunakan perhiasan dan sangat jauh dari kesan kasihan menurut saya.

Kepada AN dan IN saya mencoba membujuk mereka untuk berhenti berjualan. Namun mereka jujur kepada saya bahwa mereka akan mendapat perlakuan fisik jika tidak membawa apa-apa pulang kerumah.“Selain disini, dimanaki lagi biasa menjual?”. AN menjawab “biasa di kantor-kantor, atau keliling parepare kalua misalkan hari minggu” Pertanyaan saya selanjutnya “Apa memang bebanmu saat ini?” dengan aksen parepare. Mereka menjawab “Adekku ini baru masuk SMP terus disuruhki’ bayar baju totalnya 800 ribu. Kalau tidak cari uangka tidak bisaki sekolah Karena tidak beli baju”. Ternyata masih ada beban biaya Pendidikan yang harus mereka tanggung. Tentu ini sudah sangat memperihatinkan secara hukum dan secara social masyarakat.

Undang-undang No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas undang-undang no.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjelaskan bahwa  Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Dalam Undang-undang tersebut juga memuat tentang hak-hak mereka yang harus terpenuhi seperti hak untuk mendapatkan Pendidikan, han utuk Bermain, Berekreasi, dan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Pasal 1 ayat 2 yang berbunyi “Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi Anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.” Tentu saja perlakuan sang ibu sudah sangat bertentangan, juga terdapat pada pasal 59 Ayat 1 “Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan Perlindungan Khusus kepada Anak.” dan ayah 2 poin d “Perlindungan Khusus kepada Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada Anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual”. Disini terdapat tanggung jawab pemerintah daerah yang membiarkan anak yang dieksploitasi secara ekonomi, bahkan memberatkan dengan adanya pembayaran baju yang harus ditanggung oleh anak.

HR, NA dan NI hanya tiga dari puluhan anak yang dieksploitasi secara ekonomi. Bukan hanya di kota Parepare, bahkan keadaan seperti ini sudah lumrah terlihat diberbagai daerah di Indonesia. Contohnya saja di kawasan taman sospol UNHAS yang terlihat banyak anak-anak yang menawarkan buku dan stiker ataupun jualan lainnya. Secara pribadi saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa atas fenomena ini. Namun, tentu orang tua sangat bertanggung jawab terhadap anak-anak mereka. Bukan hanya tanggung jawab ekonomi, namun juga bertanggung jawab atas semua hak seminimal mungkin dapat memenuhi hak Pendidikan, hak perlindungan dan hak mereka untuk setara dengan teman-teman sebayanya. Bahkan, pandangan saya jika fenomena ini terjadi secara terus menerus bahkan bisa menjadi social culture yang bersifat from generation to generation. Bukan tidak mungkin, misalkan HR yang terus menerus berada dalam keadaan seperti itu, akan ikut dalam seleksi alam yang akan mengantar dia pada putus sekolah. Setelah itu, HR akan mencoba untuk mencari uang dan menjadi juru parkir atau tukang ojek. Jika perlakuan yang dia rasakan diturunkan kepada anaknya maka akan ada regenerasi, akan seperti rantai makanan yang tidak putus dan akan terus terjadi. Keresahan saya selanjutnya jika NA atau NI terus menerus ada dijalanan yang terkesan bebas mereka bisa saja terjerumus dalam pergaulan bebas bahkan bisa menikah dini. Anak-anak mereka akan diperlakukan sama dengan apa yang mereka rasakan dan menjadi budaya di masyarakat. Masyarakat juga lama kelamaan menganggap hal tersebut sebagai hal yang lumrah tanpa peduli terhadap fenomena tersebut.

Perlu ada kesadaran dari semua pihak untuk menyikapi fenomena ini. Tanggung jawab pemerintah, orang tua, juga masyarakat untuk mengkerucutkan fenomena ini agar tidak menjadi social issue di masyarakat.

SHARE


ZhafranFayiz

"Tim statusfan.com"

Follow


1 Mading


The Day of MTBS XI

Kategori : Liputan

Lindungi Anak Kita!!

Kategori : Liputan

MINGGU CERIA

Kategori : Liputan