• 13
    • 7
    • 5
    • 4
    • 1
    • 0
Saat ini moda transportasi umum sedang di hadapkan pada berbagai masalah. Salah satunya adalah meningkatnya jumlah masyarakat yang memiliki kendaraan sendiri. Meskipun masyarakat yang memiliki kendaraan semakin meningkat, ternyata beberapa daerah di Kabupaten Bandung masih bergantung pada sarana transportasi umum. Khususnya kendaraan yang mengangkut para siswa saat berangkat ke sekolah. Pada saat jam berangkat dan pulang sekolah, angkutan kota atau ojek seringkali menjadi sarana transportasi yang banyak digunakan siswa.

Sebagai contoh di daerah Pangalengan. Pemandangan pagi hari diwarnai anak-anak sekolah yang berjajar di pinggir jalan menunggu kendaraan yang bisa membawa mereka ke sekolah. Karena tidak ada angkutan kota yang melewati jalan itu, mereka akan meminta kepada setiap pengendara yang lewat, baik mobil maupun sepeda motor, agar bersedia membawa mereka ke sekolah. Bagi mereka mungkin hal ini sesuatu yang biasa, risiko yang harus ditanggung. Akan tetapi di sisi lain sangat rawan bagi keselamatan mereka sendiri. Para siswa dan orang tua tidak tahu mereka dibawa oleh siapa sehingga dikhawatirkan terjadi tindak kejahatan atau pelecehan seksual terhadap anak.

Kondisi tersebut bukan saja di daerah Pangalengan, beberapa daerah lain di Kabupaten Bandung belum ada sarana transportasi umum yang melayani masyarakat, khususnya para pelajar. Pada jam-jam siswa berangkat sekolah justru angkutan umum pun kewalahan melayani. Beberapa siswa sampai harus bergelantungan di pinggir atau belakang angkot. Hal ini tentu sangat membahayakan keselamatan mereka. Alat transportasi lain yang dapat mereka gunakan adalah layanan ojek pangkalan (opang).

Persoalan klasik lain yang sering dialami masyarakat, khususnya para pelajar adalah masalah keamanan saat berada di kendaraan umum. Baik di mobil angkutan umum maupun ojek sering kali terjadi tindak pelecehan dan kriminalitas terhadap penumpang. Kasus-kasus yang sering kita jumpai yaitu, pencopetan di dalam angkot, pengamen anarkis, dan para masyarakat atau bahkan supir yang merokok di dalam angkutan umum. Masyarakat pun sangat cemas atas isu-isu tentang penculikan dan pelecehan seksual terhadap anak usia sekolah.
 
Gagasan dibentuknya transportasi “Ojera” diawali kekhawatiran masyarakat akan keselamatan anaknya saat saat menggunakan alat trasportasi angkutan umum atau ojek. Kekhawatiran tersebut semakin tinggi saat muncul peristiwa-peristiwa yang pelecehan dan tindak kriminal di beberapa daerah di wilayah Kab. Bandung.

Peristiwa pelecehan saat menggunakan ojek di antaranya pengemudi mengerem mendadak agar penumpang perempuan lebih dekat dengan pengemudi. Pelecehan pun sering dilakukan dengan memegang badan atau anggota tubuh lain, mengendarai dengan kecepatan tinggi, ugal-ugalan, atau mengendara di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan.
Menurut DP2KBP3A Kabupaten Bandung, ojera dibentuk sebagai salah satu solusi moda transportasi yang ramah anak. Ojera terbentuk karena adanya kecemasan masyarakat dengan isu penculikan dan pelecehan seksual saat menggunakan ojek. Sebab, ada beberapa daerah atau sekolah yang moda transportasi satu-satunya hanya ojek. Atas dasar itu, dibentuklah program Ojera yang di Desa Cibiru Wetan Kab. Bandung pada 2015 yang didukung dan difasilitasi DP2KBP3A.
 
Para tukang ojek di Wilayah Desa Cibiru Wetan yang jumlahnya mencapai 95 orang, dalam aktivitas kesehariannya senantiasa berinteraksi dengan anak terutama terkait layanan antar jemput berangkat dan pulang sekolah ataupun layanan jasa angkutan ojek untuk tujuan lainnya. Bagi mereka anak adalah pelanggan yang perlu dilayani dengan layanan terbaik agar memiliki rasa nyaman dan terlindungi saat berkendaraan ojek.

Letak pangkalan ojek Desa Cibiru Wetan yang berada tepat di jalur Jalan Nasional Cibiru-Cileunyi memberikan pandangan nyata betapa berisikonya aktivitas pergi-pulang sekolah saat menyeberang karena semakin tidak tertibnya pengguna kendaraan saat berlalu lintas sehingga tidak heran sesekali terjadi insiden kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak.
Pangkalan ojek adalah tempat berkumpul selama menunggu penumpang yang perlu dijaga kebersihan dan kesehatannya, termasuk dijaga agar menjadi lingkungan yang tertib, sopan, dan ramah bagi para penumpangnya.

Berangkat dari situasi dan kondisi tersebut, seiring dengan diberikannya sosialisasi tentang Desa Cibiru Wetan sebagai rintisan desa layak anak, maka para tukang ojek bersedia juga untuk berpartisipasi sebagai relawan perlindungan hak-hak anak dengan memproklamasikan diri menjadi “OJERA” (Ojek Ramah Anak). Sosialisasi dan advokasi kegiataan ini dilakukan sejak 2015.
Hal tersebut dapat menjadi potensi yang positif dan menjanjikan untuk mewujudkan moda transportasi ramah anak. Potensi tersebut perlu terus disosialisasikan dan dilegalisasi agar seluruh lembaga terkait ikut mengawasi, memantau, dan bertanggung jawab. Jika ojera ini berhasil maka dapat diterapkan di wilayah lain dengan melakukan pembinaan terlebih dahulu kepada para tukang ojek pangkalan.
Adapun komintmen tersebut dirumuskan sebagai berikut.

a) Setiap pengemudi ojek wajib membantu anak-anak yang akan menyeberang jalan.
b) Tidak kebut-kebutan.
c) Tidak merokok saat membawa penumpang anak maupun dewasa.
d) Mewajibkan anak memakai helm demi keselamatan.
e) Tidak berkata kasar dan kotor kepada penumpang termasuk penumpang anak.
f) Menjaga sopan santun di pangkalan maupun saat berkendaraan.
g) Tidak melakukan perisakan (bullying) pada anak.
h) Tidak melakukan tindakan yang menjurus maupun tergolong pelecehan seksual.
i) Tidak mengonsumsi NAPZA.
j) Mengajak anak membaca doa saat kendaraan berangkat dan tiba di tempat tujuan.
 
Komitmen tersebut disampaikan dan disepakati oleh pengendara Ojera dalam kegiatan pembinaan dan pelatihan. Hal ini diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain agar dapat menciptakan sarana transportasi ramah anak.

Sebagai Anggota dari Forum Anak yang sering terlibat dalam kegiatan DP2KBP3A Kab. Bandung, kami berkewajiban menyosialisasikan dan menyukseskan layanan Ojera melalui berbagai kegiatan kreatif. Salah satunya melalui aksi “Kabar Aktif” (Kampanye Sebar Aksi Positif).
Diharapkan, transportasi ramah anak mampu menjamin keamanan dan kenyamanan bagi anak yang menggunakan jasa transportasi tersebut.
 
Sumber Gambar :
Kiriman lainnya
Kiriman Putri Gayatri