Mengapa Bergabung dengan TGR?

  • AWESOME!13
    • 7
    • 5
    • 4
    • 1
    • 0
sumber gambar :

Oleh: Herdika Praga, Tim TGR

Pernahkah kalian melihat senyum dan tawa seorang anak kecil? Bukankah itu sebuah pemandangan yang mampu membuat hati dan jiwa kita menjadi hangat? Dan bukankah suara tawa mereka adalah suara yang mampu membuat kita tertawa juga? Apa yang lebih membahagiakan daripada membuat anak kecil tersenyum dan tertawa? Apa yang lebih membahagiakan daripada tersenyum dan tertawa bersama mereka? Bagiku, senyum dan tawa mereka adalah kebahagiaan. Bisa membuat mereka tertawa adalah sebuah kebanggaan.

Banyak orang merasa kesal dan malas ketika diminta menjaga anak kecil karena tingkah laku mereka yang susah diatur, namun justru itulah yang dilakukan oleh para anggota dari Tradisional Games Rerurns (TGR) Community. Mereka tidak hanya menjaga tapi juga mengajak untuk memainkan permainan tradisional bersama mereka. Jadi, selain bermain bersama, teman–teman dari tim TGR juga mengajarkan anak–anak untuk bisa mengenali permainan tradisional asli dari Indonesia.

Awal saya bergabung dengan TGR hanya karena dimintai tolong oleh teman untuk menjadi tim dokumenter. Saya hanya menjalankan tugas sebagai seorang videographer. Saya adalah orang yang sangat cuek dengan anak kecil, karena bagi saya anak kecil itu menyebalkan, berisik, susah diatur. Sebisa mungkin pasti saya menghindari kontak langsung dengan mereka. Sebaliknya, saya pun merasa tidak ada anak kecil yang menyukai saya.
 
Akan tetapi, saya tidak menyangka bahwa ikut dalam TGR menjadi sebuah titik balik dalam hidup saya. Ketika pertama kali ikut dalam acara TGR, saya melihat kakak–kakak dari TGR yang sedang bermain bersama adik–adiknya di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Saya melihat anak–anak kecil yang bermain bersama mereka sangat bahagia. Tawa dan canda mereka memenuhi udara di sekitar, membawa kebahagian bagi semua orang yang ada di sana.

Oleh sebab rasa penasaran dan dorongan hati, saya ikut lebih jauh dalam komunitas ini. Komunitas ini mengajarkan saya bagaimana menghadapi seorang anak kecil yang kita anggap sulit untuk diatur. Yah, cara yang ampuh adalah membuat mereka senang. Ketika anak kecil senang, dia akan mudah untuk diatur.

Sekarang saya melakukan apa yang TGR lakukan. Dekat dengan anak kecil, menyayangi mereka, dan mereka pun menyayangi saya. Contohnya, saya sangat cuek terhadap anak kecil ketika berada di dalam KRL. Dulu saya cenderung menghindari mereka, tapi sekarang jika ada anak kecil saya akan mengajaknya bermain walaupun di dalam KRL dan banyak orang. Banyak orang tua yang senang saya bermain bersama buah hatinya.

Meski demikian, banyak juga kendala dari luar. Contohnya, terkadang ada orang yang menyalah artikan perilaku saya seperti seorang pedophilia. Tidak. Rasa sayang yang saya tujukan kepada mereka tidak lain adalah wujud kepedulian. Ada juga cemoohan dari teman–teman saya yang meremehkan TGR, tetapi saya tahu hal seperti itu tidak layak mendapat perhatian saya. Saya adalah salah satu tim TGR. Mereka tidak tahu-menahu mengenai TGR. Oleh sebab itu hanya cemoohan yang dapat mereka ungkapkan. Mereka tidak tahu keindahan menjadi seorang TGR.

Saya pasti akan tetap menjadi bagian tim TGR. Bukan karena uang atau hal lainnya, melainkan kesadaran bahwa hal tersebut merupakan kebutuhan hati dan jiwa saya. TGR bukan hanya satu orang, tapi semua orang adalah TGR.

Saya menyadari TGR tidak sekadar memperkenalkan permainan tradisional kepada anak, melainkan juga membantu anak–anak untuk merasa bahagia. Saya meyakini kebahagiaan seorang anak adalah jaminan untuk masa depannya yang cerah. Melalui TGR saya dapat menjadi orang yang lebih baik dalam bercengkerama dengan anak–anak.
 
Source :
Kiriman Lainnya