MARTABAK MANIS RASA PATAH HATI

  • AWESOME!13
    • 7
    • 5
    • 4
    • 1
    • 0
sumber gambar : google.com

Selesai outbond seru di taman rekreasi Alam Mayang, kami pulang dengan kondisi mengenaskan baju basah, celana basah, paru-paru basah karena saking ganasnya kami bermain perang air. Aku dan Husen naik mobil "pick up" membawa properti outbond sementara teman-temanku naik sepeda motor beriringan. Cerita dan tawa yang kami kumandangkan sepanjang jalan menjadi penutup hari yang seru itu.

Di perjalanan menuju kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kota Pekanbaru, Aku dan Husen menikmati sunset sore itu, mengunyah dua bungkus kuaci tanpa minum, sambil memutar lagu yang sedang hits "Akad - Payung Teduh", lalu

Husen berkata: "kayak di Afrika Selatan ya, Gung!".
Aku menjawab: "Iya, kayak di Afrika Selatan".

Padahal kami berdua belum pernah ke Afrika Selatan. 

"Eh tapi di Afrika Selatan enggak ada kuaci sama lagu akad!" seru ku.
"Iya juga ya, cuma ada uvuvwevwevwe ossas sama kuazawalakakukulakuaza kreeeekkk!" jawab Husen sambil mengeluarkan semburan air liur beracun.

Teman-temanku yang naik sepeda motor sedang mengisi bensin, Aku dan Husen mencari cemilan yang cocok dimakan disaat badan kami sedang menggigil seperti ini.

"Jadi kita beli apa?" tanya Husen.
"kita beli martabak manis aja kayaknya enak" jawab ku.
"Boleh tuh, martabak manis paling enak itu di dekat simpang Mal SKA" sambung Husen.
"Jauh banget, nanti kita pulangnya pagi!" tegas ku.
"Ya kali pagi, ini masih sore gung!" ketus Husen.
"Iyaudah berangkat!" sambung ku.

Sampailah kami di tempat martabak manis paling enak versi Husen si air liur beracun.

"martabaknya rasa apa, gung?" tanya Husen sambil melihat daftar menu.
"rasa cokelat, keju, kacang ya ... terserah deh" jawab ku.
"gimana kalau rasa ... terima pesan antar sama pesta ulang tahun?" tanya Husen.
"Itu bukan daftar rasa martabak!" ketus ku.
"Iyaudah gimana kalau rasa cokelat 1, keju 1, kacang 1?" tanya Husen.
"Iyaudah itu aja" singkat ku.

Husen memanggil abang martabak manis untuk memesan, abang martabak manis menoleh, ternyata abang martabak manis tidak semanis wajahnya, dia memakai kaos berkerah warna kuning hadiah mesin pompa air dengan 2 buah kancing baju yang tidak terpasang, kemudian dengan satu tarikan nafas abang martabak manis bilang "ditunggu ya dek!".

Selesai membeli 3 bungkus martabak manis, Aku dan Husen melanjutkan perjalanan. Kami berhenti di lampu merah Mal SKA menunggu hingga lampu kembali hijau. Hal yang selalu Aku katakan dalam hati sambil menghela nafas panjang jika berhenti di lampu merah adalah "kenapa hati gue enggak serame ini ya?". Tiba-tiba lamunan kami buyar dan tertuju pada sosok anak kecil perempuan tidak punya tangan dan kaki ... "anak konda?". Oh bukan, maksud ku anak kecil perempuan yang masih berumur sekitar 10 tahun menggunakan baju pink, celana hijau, sendal jepang, sambil meminta uang dari satu mobil ke mobil lain.

Melihat hal itu hati kecil kami tersentuh.

"Aduhh .. ini emaknya kemana .. lagi?" ketus Husen.
"Ya .. paling yang nyuruh emaknya, dimana-mana kan gitu" sambung ku.
"Enggak tega lihatnya gung, habis seluruh 4 hak dasarnya" kata Husen.
"Ya gimana lagi, eh.. anak itu kesini, Hus!" seru ku.

Anak kecil perempuan itu mendekati mobil "lamborghini" kami, maksudnya mobil "pick up" kami, dia melihat kami, tepat disamping pintu mobil sebelah ku, dengan tatapan memelas anak kecil perempuan itu bilang,

"bang ... bagi uang seribu" kata anak kecil perempuan.
"abang enggak punya uang, dek" jawab ku.
"kami enggak punya uang, kalau kami kasih martabak manis, mau?" sambung Husen.
"mau bang!" jawab anak kecil perempuan.
"iyaudah ini ya .." sambung ku sambil memberikan sebungkus martabak manis rasa cokelat
"makasih ya bang" kata anak kecil perempuan.
"iya sama-sama, hati-hati ya" sambung Husen.

Anak kecil perempuan itu sangat senang kami berikan sebungkus martabak manis rasa cokelat, dia meloncat kegirangan seperti Doraemon yang kemasukan es batu didalam celananya. Aku dan Husen hanya bisa tersenyum melihat hal itu. Lampu merah berganti lampu hijau, satu persatu kendaraan sudah mulai jalan kembali. Mungkin sebungkus martabak manis rasa cokelat itu tidak sebanding dengan penderitaan hidup yang dialami anak kecil perempuan itu. Entah kenapa setelah melihat kejadian tadi, martabak yang awalnya lembut, mengkilap dengan olesan mentega diatasnya, dimasak dengan penuh cinta, taburan cokelat yang begitu menggoda jadi terasa hambar. Seolah sebungkus martabak manis rasa cokelat itu sudah berubah menjadi martabak manis rasa patah hati.

Source : google.com
Kiriman Lainnya