Main Asyik di Warunk Ngeunah (TGR-Warunk Ngeunah)

  • AWESOME!13
    • 7
    • 5
    • 4
    • 1
    • 0
sumber gambar :

Oleh: Siti Rohmatulloh, Tim TGR
 
Merefleksi diri pada jiwa anak-anak yang masih jujur mungkin memang perlu dilakukan oleh setiap dewasa yang mulai lupa bagaimana ia dulu pernah tertawa tanpa memikirkan berbagai persoalan hidup di masa yang serba dipercepat. Penting setidaknya sekali untuk mengambil langkah pelan dan mulai mengamati apa yang telah berubah dan mungkin telah hilang.
 
Dahulu bermain di luar ruang dengan peralatan sederhana pernah menjadi sumber bahagia anak-anak sebelum tergantikan berbagai inovasi permainan digital melalui perangkat modern. Ragam permainan itu bahkan kini mendapat tambahan kata "tradisional" untuk memperjelas kelompok permainan yang dimaksud. Traditional Games Return (TGR) Team adalah salah satu komunitas yang berusaha menggaungkan kembali permainan tradisional di kalangan anak-anak. Mulai dari gerakan kecil, kini TGR Team mulai dikenal dan berhasil mendorong kelompok-kelompok lain untuk melakukan hal yang sama, termasuk Warunk Ngeunah. Sebuah tempat sederhana yang dimanfaatkan untuk menarik kembali minat anak-anak terhadap permainan tradisional.
 
Berada di sebuah desa yang jauh dari jalan beraspal dengan akses kendaraan umum hanya angkutan kota (kota) berwarna biru dan hijau bertuliskan “leuwiliang”, sebuah warung disulap menjadi tempat bermain permainan tradisional. Warunk Ngeunah, sebuah rumah dengan warung kecil di sampingnya dilengkapi meja dan bangku sederhana dari triplek. Ngeunah yang dalam bahasa Sunda berarti "enak", digunakan untuk mengungkapkan maksud bahwa dunia anak haruslah enak.
 
Warunk Ngeunah biasanya akan mulai ramai ketika anak-anak pulang dari sekolah. Begitu pula pada pagi itu, dua hari menjelang peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Kak Rifal dan kakaknya, kak Fajar sengaja membuat agenda lomba permainan tradisional untuk anak-anak kampung Hambaro, desa Sukaluyu, kecamatan Leuwiliang, Bogor.  Atas undangan mereka pula tim TGR datang dengan berbagai peralatan permainan tradisional.
 
Agenda hari itu dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu nasional Hari Merdeka. Selain anak-anak, lokasi permainan juga dipadati oleh orang tua sehingga suasana di Warunk Ngeunah semakin ramai. Terdengar teriakan riuh rendah manakala acara dibuka secara simbolis dengan memainkan bandringan.
 
Permainan dimulai, serentak di beberapa titik di sekitar Warunk Ngeunah. Tidak kurang dari lima permainan yang dilombakan ditambah dengan lomba kerupuk yang identik dengan lomba 17-an. Anak-anak antusias mencoba ragam permainan yang ada dan tidak sedikit yang gugup ketika mengikuti lombanya. Begitu pun dengan orang tua yang mendampingi.
 
"Bismillah dulu, Nak," ujar Nurhasanah kepada anaknya, Ahmad, yang hendak melemparkan batu dengan ketapel di tangannya untuk menjatuhkan menara kaleng beberapa meter di depannya. Permainan inilah yang disebut bandringan.
 
Selain bandringan, permainan kelereng, egrang batok, dam das, dampu atau gugunungan dan congklak pun turut dilombakan. Anak-anak memang tidak asing dengan permainan tersebut. Hanya kesempatan bermain yang langka serta terpaparnya anak-anak oleh permainan digital melalui perangkat modern lah yang membuatnya jarang dimainkan. Hal ini disadari kak Rifal ketika ia sebelumnya telah mengamati anak-anak yang datang kepadanya untuk diberikan akses jaringan internet guna memainkan permainan melalui gadget (gawai) yang dipegangnya.
 
Awalnya kak Rifal tidak menaruh perhatian pada anak-anak. Ia lebih fokus pada remaja atau pemuda di lingkungannya. Warung yang dikembangkannya dibuat dengan pernak-pernik untuk menarik perhatian mereka, bahkan memasang kata-kata motivasi berkaitan dengan pemuda. Kemudian ia menyadari sebuah kesalahan ketika memperkenalkan dan menyediakan jaringan internet kepada sekitarnya. Anak-anak kecil yang datang malah meminta akses untuk dapat memanfaatkan jaringan wi-fi. Mereka pun terfokus pada gawai yang ada di genggamannya. Kak Rifal menyadari kekeliruan yang dibuatnya. Oleh sebab itu, ia mulai mengganti konsep dengan fokus pada anak-anak. Beberapa gambar permainan tradisional ditempel di dinding warung.  Selain permainan yang dilombakan siang itu, anak-anak juga dapat mengenal permainan lainnya seperti galah asin dan ular naga yang mereka sebut tamtam numput.
 
Semua berkumpul ketika pertandingan final gandringan dimainkan. Ibu-ibu, anak-anak, laki--laki dan perempuan turut diselimuti ketegangan manakala tangan-tangan kecil itu berusaha melawan gaya pegas ketapel yang dipegangnya sebagai senjata menjatuhkan menara kaleng yang dicat warna merah putih. Di sudut lain, Ican, yang paling kecil di antara yang lain tidak pantang menyerah menggigit sedikit demi sedikit kerupuk yang tergantung di depannya. Ibu-ibu lainnya pun terlihat seru bermian congklak dan damdas, bernostalgia dalam kenangan masa kecil mereka.
 
Kak Metta, anggota TGR yang turut memandu acara siang itu memanfaatkan kesempatan baik ini untuk mengenalkan hak anak melalui lagu dan gerakan sederhana. Ia berhasil menarik perhatian anak-anak untuk berkumpul di satu tempat diikuti orang tua mereka. Tentu saja kak Metta dan kawan-kawannya tidak muluk berharap anak-anak seusia mereka akan memahami apa itu hak anak, namun mereka optimis setidaknya hal ini dapat didengar dan diperhatikan oleh orang tua mereka yang juga turut berkumpul di belakang memerhatikan anak-anaknya.
 
Meski begitu, upaya menggaungkan kembali permianan tradisional dan menarik perhatian anak-anak untuk melepas gawainya memang tidak mudah. Tidak sedikit yang masih lebih memilih bermian melalui gawai daripada bermain di luar ruang. Ini menjadi tantangan tidak hanya bagi anak-anak itu sendiri melainkan juga orang dewasa yang mendampingi. Melalui gerakan kecil kolaborasi berbagai pihak, permainan tradisional diharapakan dapat menjadi magnet yang menarik anak-anak kembali bermain di luar.
 
 
Source :
Kiriman Lainnya