Kenali Congklak-mu

  • AWESOME!13
    • 7
    • 5
    • 4
    • 1
    • 0
sumber gambar :

Oleh: Brigitta Novira Maharani, Tim TGR
 
Bagi generasi tahun 80-an dan 90-an, permainan tradisional adalah hal yang menjadi bagian dari hidup mereka sehari – hari. Sepuluh permainan tradisional yang paling digemari adalah benteng, congklak, dor tap, galah asin, gasing, kasti, layang – layang, petak umpet, yoyo dan balap karung. Dari semua permainan tradisional di atas congklak adalah salah satu permainan yang lebih sering dimainkan oleh perempuan ketimbang laki – laki.

Congklak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya permainan ini terbuat dari sejenis cangkang kerang yang digunakan sebagai biji congklak dan kadang juga menggunakan biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan dan batu-batu kecil. Pada zaman sekarang biji congklak pun banyak terbuat dari plastik yang menyerupai cangkang kerang.

Permainan congklak ini sejenis permainan melayu tradisional yang digemari oleh kaum perempuan dan kanak-kanak. Permainan ini memerlukan dua orang untuk bermain. Peralatan yang digunakan adalah papan congklak dan buah congklak. Papan congkak memiliki 14 lubang yang dipanggil "kampung". Terdapat dua lubang besar di setiap ujung papan congkak. Lubang ini dipanggil "rumah".
Di Jawa, permainan ini lebih dikenal dengan nama congklak, dakon, dhakon atau dhakonan. Di beberapa daerah di Sumatera yang berkebudayaan Melayu, permainan ini dikenal dengan nama congkak. Di Lampung permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban, sedangkan di Sulawesi permainan ini lebih dikenal dengan beberapa nama: Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang dan Nogarata.
  
 
Tata cara bermain congklak
  1. Permainan ini diawali dengan memasukkan sebiji "buah" ke dalam setiap "kampung" sendiri dan seterusnya masukkan ke dalam "rumah". Selanjutnya "buah" dimasukkan ke dalam "kampung" lawannya. Jika ia singgah di kampung lawan yang tidak ada buah ia dianggap mati.
  2. Jika buah terakhir singgah di kampung lawan yang mempunyai buah, maka ia boleh meneruskan permainan.
  3. Jika ia mati di kampung sendiri, bertentangan dengan kampung lawan yang mempunyai buah, ia berhak mengambil buah lawannya itu.
  4. Sekiranya ia mati di kampung sendiri setelah melalui kampung lawan dan didapati di kampung lawan tidak ada buah, maka ia mati dalam kerugian.
  5. Di akhir permainan buah hanya tinggal beberapa biji saja dalam kampung masing-masing. Mereka harus berjalan secara serentak menuju ke arah rumah masing-masing. Jika salah seorang kehabisan buah dalam kampungnya sendiri, ia dianggap kalah.
Source :
Kiriman Lainnya