Hujan Adalah Kebahagiaan Ku

  • AWESOME!13
    • 7
    • 5
    • 4
    • 1
    • 0
sumber gambar : google.com

Disuatu sore yang sangat dingin , aku duduk diam dirumah bagaikan orang idiot yang terpelongo dengan satu tatapan kosong. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Coffe Toffee untuk membuang rasa suntuk.
Langsung saja ku ambil kunci motor lalu ku kendarai motor ku dengan kecepatan 60 km/jam layaknya orang yang sedang dikejar setan. “Nah , itu dia tempatnya” ujarku sambil mencari tempat parkiran yang aman. Lokasinya tepat ditepi lampu merah , jadi aku tidak terlalu merasa kesepian walaupun saat itu aku pergi sendiri.

Setelah aku dapat tempat parkiran yang bisa dibilang aman , langsung saja ku pesan secangkir greentea dan kebab favoritku. Selagi menunggu pesananku datang , aku mendengar nyanyian pengamen jalanan , sesekali suaranya memecah kesunyian kota yang kutinggali ini. Ingin sekali ku bernyanyi dengannya di jalanan agar rasa kesepian di hatiku ini tidak terlalu mengganggu ku. “Ah , mulai lagi berkhayal yang tidak tidak”.

Tapi, bagaimana bisa seorang anak mau mengorbankan waktu untuk bermainnya yang sesuai dengan hak yang dimiliki nya rela dihabiskan dengan mengamen di jalanan ? Apakah mereka disuruh orangtua nya karena faktor ekonomi yang kurang mendukung di keluarganya ? Apakah mereka diam-diam mencari uang demi uang jajan yang tidak bisa dipenuhi oleh orangtuanya? Oh , Ataukah tidak ada yang mau merawat dan memberi mereka makanan karena mereka yatim piatu ? semua hal bisa terjadi.

Karena rasa penasaran ini sangatlah kuat , langsung saja aku berdiri dari tempat duduk itu lalu aku berlari dan menemui pengamen kecil itu. Beruntunglah mereka sedang beristirahat di tepi jalanan. Lalu kusapa adik itu dengan senyuman manis dan berkata “Hallo adik manis , sedang apa nih ?” Lalu dia menjawab “Gak ada kak , Cuma duduk aja , mengistirahatkan badan , soalnya dari tadi pagi aku ngamen Cuma dapat 4000” katanya sambil menunjukkan kaleng yang berisi uang 4000.

Ku menatapnya dengan senyuman ringan. Langsung saja tanpa basa-basi kutanya “Boleh kakak nanya dek ?” Lalu dia mengangguk dengan senyuman khasnya lalu menatapku dengan amat dalam. “ Kok adek mau ngerelain waktu adek main untuk ngamen ditepi jalan gini ?” ujarku. Lalu dia hanya menjawab dengan senyuman kecil nya itu dan berkata “ Kalo adek ndak ngamen , adek ndak ada duit untuk jajan do kak “ lanjut ku bertanya “ Adek disuruh orangtua nya untuk ngamen ? “ tiba-tiba dia menunduk lalu mengangguk , menandakan bahwa memang benar orangtua nya lah yang menyuruh nya untuk mengamen dijalanan.

Ku diam bagaikan patung , aku terfikir bahwa , masih ada saja orangtua yang tega menyuruh anaknya untuk mencari uang , padahal seorang anak belum boleh bekerja. Tiba-tiba hujan pun turun , lalu anak tersebut menaruh ukulele miliknya lalu berkata padaku “Ini baru waktu adek untuk main kak” dia langsung menari riang gembira dan menjerit sesuka hatinya seakan-akan hanya pada saat hujan lah ia bisa bermain , melepas beban hidup yang dialaminya dengan menjerit sesuka hatinya. Lalu ku menatapnya dengan senyuman tipis dia pun begitu. Sejak saat itu , hujan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi ku.
 
Source : google.com
Kiriman Lainnya