Oleh : Yuda Okta Ramadhan
Kategori : Karya Tulis

Indonesia sebagai negara anggota PBB telah turut mendukung dibentuknya KHA dengan mewujudkannya dalam undang-undang. Namun masih saja banyak orang tua yang tak memahaminya, sehingga pelanggaran terhadap hak-hak anak pun kerap terjadi. Perangkat hukum di negeri kita masih lemah, peraturan yang ada belum dilaksanakan secara penuh. Tak heran bila kasus pelanggaran hak anak baru diperkarakan setelah menelan korban

Menurut Konvensi Hak Anak dan Undang-Undang Republik Indonesia No.35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak mendefinisikan anak sejak di dalam kandungan untuk lebih memberikan perlindungan yang menyeluruh terhadap anak. Sumber lain menyebutkan bahwa anak adalah “setiap manusia” yang berumur 0-18 tahun, dan “setiap manusia” diartikan bahwa  tidak boleh ada pembeda-bedaan atas dasar apapun, termasuk atas dasar ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, keyakinan politik atau keyakinan lainnya, kebangsaan, asal-usul etnik atau kekayaan, cacat atau tidak, status kelahiran ataupun status lainnya, baik pada diri si anak maupun pada orangtuanya.

Seharusnya kita bisa mencegah terjadinya pelanggaran terhadap HAM anak. Anak-anak yang tak berdosa, yang seharusnya diperhatikan dan dikasihi malah menjadi korban kekerasan. Sebagai orang tua, kendati kita tidak hapal secara persis apa saja hak-hak anak, seharusnya kita punya perasaan, naluri, dan akal sehat. Jadi, tanpa harus lebih dulu ada aturan hukumnya, sudah seharusnya kita memberikan yang terbaik untuk anak. Setiap anak berhak untuk bersekolah dan bila perlu anak juga berhak mengikuti kegiatan di sekolah, termasuk les tambahan. Sebagai orang tua harus memperhatikan keinginan, minat, dan bakat anak dalam menentukan sekolah. Setiap anak berhak untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya dan orang tua wajib mendukung hal tersebut. Kita tidak hanya diwajibkan memperhatikan anak-anak gifted atau berbakat tetapi juga anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti penyandang autisme, tunanetra, tunarungu, tunagrahita, ataupun anak-anak dengan kelainan dan penyakit tertentu.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia terdiri dari 106 pasal dan memuat 11 bab, yaitu: ketentuan umum, asas-asas dasar, hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia, kewajiban dasar manusia, kewajiban dan tanggung jawab pemerintah, pembatasan dan larangan, komisi nasional hak asasi manusia (komnas ham), partisipasi masyarakat, pengadilan hak asasi manusia, ketentuan peralihan, dan ketentuan penutup. Di dalam konsideran UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sistem Pendidikan Nasional) menentukan bahwa, “UUD 1945 mengamanatkan Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan yang diatur dengan undang-undang.Sedangkan di Pasal 1 angka 1 UU Sistem Pendidikan Nasional menentukan pengertian Pendidikan, “Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan”. dimana seorang anak mempunyai hak sebagaimana diatur di dalam UU Perlindungan Anak No.35 Tahun 2014 Anak mempunyai 31 Hak yang salah satunya Hak Untuk Mendapatkan Pendidikan. Pendidikan merupakan hak setiap warga negara, namun masih ada beberapadari mereka yang belum mendapatkan hak tersebut. Hingga saat ini, peluang terbesar untuk memperoleh akses pendidikan yang baik hanya anak orang kaya dan pintar.

Dengan bermodalkan kemampuan ekonomi yang lebih dari cukup, didukung dengan kemampuan berpikir tinggi, menjadi faktor pendukung untuk memperoleh akses pendidikan yang lebih baik. Kondisi anak-anak di perkotaan yang hidup di bawah garis kemiskinan juga memaksa mereka bekerja demi mempertahankan hidup. Sehingga, sebagian besar dari mereka tak mempunyai kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Fakta yang tak jauh berbeda kita temukan pada masyarakat pedesaan. Karena faktor ekonomi yang tidak mendukung, anak-anak desa yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi harus mengubur dalam-dalam mimpi mereka.

Dalam hal ini, pemerintah dituding membuat kebijakan yang diskriminatif sehingga menyulitkan rakyat kecil mengakses pendidikan. Kedua, kurangnya orientasi pendidikan terhadap pembangunan moral. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat realitas anak-anak yang bertindak amoral, sehingga sering dikatakan pendidikan minus budi pekerti. Bila dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, anggaran pendidikan Indonesia termasuk dalam kategori tinggi. Namun, tetap saja masih banyak anak Indonesia yang belum mendapatkan pendidikan yang layak. Tingginya biaya pendidikan di Indonesia membuat anak-anak dari kalangan rakyat menengah ke bawah tak mampu menjangkaunya.

ANAK merupakan aset negara yang akan menentukan masa depan bangsa. Oleh sebab itu, sudah seharusnya pemerintah lebih memperhatikan kualitas pendidikan bagi anak. Dengan pendidikan anak yang berkualitas, diharapkan masa depan Indonesia akan menjadi lebih baik seiring membaiknya pendidikan anak. Untuk mencapai harapan itu, dibutuhkan keseriusan dari berbagai pihak, baik orangtua, guru, maupun pemerintah agar tujuan tersebut dapat terpenluhi. Sehingga Saat ini banyak orang mulai memperhatikan HAM anak, mengingat saat ini banyak sekali terjadi pelanggaran terhadap hak-hak anak. Banyak kasus-kasus pelanggaran HAM terutama pada anak yang menjadi sorotan dan menyita perhatian publik. Banyak anak dijual dan disiksa. Banyak anak-anak yang terkena penyakit turunan dari orang tua dan mengalami gizi buruk. Jika kita melihat ini adalah protret yang sangat menyedihkan, anak yang seharusnya mendapatkan perhatian, kasih sayang dan cinta malah mendapatkan perlakuan yang tidak seharusnya seperti itu. Sedangkan yang dimaksud dengan Hak Asasi Manusia merupakan hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapa pun.

SHARE!

Yuda Okta Ramadhan

"Tim Statusfan.com - Forum Anak Nasional 2017 - Duta Anak Riau 2017 - Forum Anak Riau - Forum Anak Kab.Indragiri Hulu - Pelopor dan Pelapor Provinsi Riau 2017 - PAPP Tahun 2017 Solo "

Follow


10 Mading


Belajar dari Jejak Najwa Shihab

Kategori : Karya Tulis

Say No To Bully

Kategori : Karya Tulis

Hak Anak Untuk Mendapatkan Pendidikan

Kategori : Karya Tulis

JIKA

Kategori : Karya Tulis

Anak Kepri Memaknai Sumpah Pemuda

Kategori : Karya Tulis

Kids Jaman Now

Kategori : Karya Tulis