• 13
    • 7
    • 5
    • 4
    • 1
    • 0
oleh Dyah Mutiara Sari Dewi

Pada tanggal 23 Oktober 2018 yang lalu, saya dan Vicky Ardiansyah, teman tuli yang juga pengurus Forum Anak Kabupaten Situbondo (FAKASIBOND) mendapat kesempatan langka. Betapa tidak, kami didapuk menjadi narasumber dalam kegiatan Temu Inklusi #3 yang diselenggarakan oleh Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia. Bagi kalian yang belum tahu, Temu Inklusi ini merupakan ruang berbagi, berjejaring, konsolidasi dan jambore yang mempertemukan pemerintah dengan para pegiat inklusi sosial penyandang disabilitas dari kabupaten/kota se-Indonesia. Bisa dikatakan ajang selevel Forum Anak Nasional (FAN) seperti di organisasi kita nih.

Tema Temu Inklusi #3 adalah “Menuju Indonesia Inklusif 2030: Menyatakan Praktik Inklusi Melalui Praktik Kolaboratif untuk Indonesia Bermartabat. Kegiatan ini dipusatkan di Desa Plembutan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yougakarta. Kalian tahu ngga, kalo kami adalah narasumber termuda diantara narasumber lain pada acara ini? Bangga banget dong, jadinyaa :)

Disana kami menceritakan bagaimana FAKASIBOND tumbuh menjadi wadah partisipasi anak yang inklusif. Saya ceritakan bahwa semua ini diawali dengan pelatihan belajar bahasa isyarat Indonesia (BISINDO). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan (DPPPA) Kabupaten Situbondo pada bulan Desember 2017 yang lalu ini mengundang Kak Rieka Aprillia Hermansyah dari Komunitas Arek Tuli Malang sebagai instruktur pelatihan BISINDO. Sejak itu banyak pengurus Forum Anak yang belajar bahasa isyarat dengan mempraktikkannya langsung kepada teman-teman tuli yang tergabung di FAKASIBOND. Ibarat mata pisau yang tajam karena sering diasah, kami jadi hafal banyak kosakata BISINDO sehingga lancar ngobrol dengan teman tuli.

Selanjutnya Vicky juga menjelaskan kegiatan-kegiatan apa saja yang sudah FAKASIBOND lakukan. Banyak kegiatan yang berkolaborasi bersama teman difabel, seperti bikin video "Pantang Menilai Sebelum Kenal" , bakti sosial di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak/Panti Asuhan, bagi-bagi takjil buka puasa, jalan-jalan bareng, ikut kegiatan rapat di pemkab, dsb. Bahkan kami juga mendapat kunjungan spesial dari Kak Hanif Muallifin, penilai Jawa Pos Institute for Pro-Otonomi (JPIP) yang datang langsung untuk melihat inklusivitas di FAKASIBOND sebagai bagian pendukung Situbondo Inklusif Terintegrasi (SINERGI).

Saya merasa bangga bisa mengetahui BISINDO, sehingga saya tidak kesulitan dalam menangkap apa yang disampaikan oleh Vicky dan teman-teman tuli lainnya. Saya juga senang para tamu undangan yang lain menyambut paparan kami dengan antusias.Sambutan baik yang kami terima semakin menyemangati kami di FAKASIBOND untuk terus berbenah. Kami sadar tantangan kedepan semakin berat. Namun kami yakin, semua anak dilahirkan sebagai anugerah, maka semua anak berhak mendapat perlakuan setara dan tanpa diskriminasi.

Itu yang bisa saya ceritakan pada kalian saat ini. Sampai jumpa di cerita-cerita kami berikutnya. Dadahhh!!!!
Sumber Gambar : Dokumentasi FAKASIBOND
Kiriman lainnya
Kiriman Forum Anak Kabupaten Situbondo