Berburu Aspirasi

  • AWESOME!13
    • 7
    • 5
    • 4
    • 1
    • 0
sumber gambar : Dokumen Pribadi

Bantaeng, 13 Februari 2017 Forum Anak Butta Toa melaksanakan program kerja “Berburu Aspirasi”, yang menjadi sasaran program kerja ini adalah anak-anak yang kurang beruntung seperti anak yang putus sekolah, anak yang dipekerjakan, berkebutuhan khusus, dan anak yang menikah di usia anak atau sering kita sebut pernikahan usia anak. Berburu aspriasi ini dilaksanakan di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Bantaeng. Seperti Kecamatan Bantaeng, Kecamatan Bissappu, Kecamatan Eremerasa, Kecamatan Ulu Ere, Kecamatan Pa’jukukang, Kecamatan Tompobulu dan lain-lain. Hasil dari pelakasaan program kerja ini nantinya sebagai bahan ketika Musrenbang Anak Kabupaten dilaksanakan. Kami memang sengaja berkeliling Kabupaten Bantaeng untuk mencari aspirasi anak Bantaeng yang lainnya. Karena konsep Musrenbang Anak dari tahun ke tahun hanya mengundang Anak-Anak melalui sekolah masing-masing, kami ingin berinovasi agar
penyaluran aspirasi anak Bantaeng bisa lebih merata.

Berburu aspirasi dilakukan dengan proses wawancara kepada narasumber yang menjadi sasaran program kerja ini. Dalam pelaksanaannya kami pengurus FABT di bagi menjadi beberapa tim. Setiap tim beranggotakan 2 (dua) orang yang masing-masing ditempatkan di wilayah yang berbeda. Kami tidak pergi sendirian, tiap tim ditemani oleh seorang mentor yang memberi pengarahan bagaimana proses wawancara yang baik sehingga membuat narasumber tertarik dan tidak tertekan untuk bercerita tentang dirinya. Pelaksanaan program kerja ini berlangsung selama 3 (tiga) hari terhitung dari tanggal 13 Februari sampai 15 Februari 2017. Namun tidak membuat semangat pejuang hak anak turun. Terik mentari, badai hujan pun kami lalui demi mendengar suara anak-anak yang belum terpenuhi haknya.

Wawancara kami lakukan di rumah para narasumber, terlihat sosok yang muncul dari balik pintu seakan bertanya-tanya maksud dan tujuan kami berkunjung ke rumah mereka. Nampak jelas raut muka takut ketika kami mulai berbicara namun karena arahan dari mentor kami dapat mencairkan suasana dan membuat narasumber berani bercerita tanpa terbebani sedikit pun. Penggunaan bahasa setiap narasumber pun berbeda-beda. Ada yang tidak fasih berbahasa Indonesia, ada yang berbahasa daerah halus, dan ada juga yang berbahasa daerah kasar atau bahasa konjo. Terkadang, bahasa yang menjadi penghambat saat wawacara berlangsung. Tapi kami tetap menyesuaikan penggunaan bahasa kami agar narasumber bisa memahami pertanyaan-pertanyaan yang di peruntukkan padanya.

Kebanyakan dari narasumber adalah anak yang putus sekolah. Faktor utama yang membuat anak-anak ini putus sekolah adalah perekonomian keluarga. Ini adalah faktor yang paling dominan atas permasalahan anak. Tidak hanya anak yang putus sekolah karena faktor ekonomi, pekerja anak dan pernikahan usia anak juga karena faktor ekonomi. Banyak di antara anak-anak ini yang sangat ingin melanjutkan pendidikan sampai jenjang yang tinggi. Ada juga yang mau tapi takut. Takut karena maraknya pemajakan yang di lakukan teman sebayanya di sekolah. Tidak hanya pemajakan, kekerasan pun marak terjadi di dunia persekolahan. Masalah transportasi juga menjadi penghalang anak-anak bersekolah. Transportasi yang disediakan pemerintah jarang berlalu lalang di daerah pelosok sehingga membuat anak-anak tidak bisa ke sekolah. Hal inilah yang menghambat pendidikan di Indonesia umumnya, dan di Kabupaten Bantaeng khususnya.

Selain hak pendidikan, hak gembira pun juga menjadi masalah anak-anak. Kurangnya taman bermain anak di pelosok desa, tempat wisata yang jauh dari pelosok, dan lain sebagainya. Anak-anak yang tinggal di daerah pelosok ini sangat mengharapkan partisipasi pemerintah dalam upaya pembangunan taman bermain dan tempat wisata yang mudah di jangkau.

Permasalahan anak bukan hanya dalam hak pendidikan maupun hak gembiranya saja, masih banyak hak-hak anak lainnya yang belum terpenuhi. Hak kesehatan misalnya. Banyak di antara narasumber yang mengeluh pasal kesehatan. Biaya rumah sakit yang mahal dan jauh dari pelosok, kurangnya fasilitas kesehatan di desa-desa dan lain sebagainya. Ini sebagai cambuk bagi pemerintah agar lebih memperhatikan kesehatan masyarakat yang ada di pedesaan atau pelosok.

Kami juga mendapati beberapa anak yang punya bakat seperti dalam bidang olahraga, seni, menulis dan lainnya. Bakat ini perlu diasah agar menjadikan pemilik bakat percaya diri dalam berkarya.

Kegiatan ini membawa pengaruh baik bagi anak-anak yang kurang beruntung. Adanya program kerja ini menjadikan anak-anak tersebut dapat mengeluarkan aspirasi untuk selanjutnya disampaikan sendiri oleh mereka kepada pemerintah melalui pelaksanaan Musrenbang Anak Kabupaten di Bantaeng. Selain itu, aspirasi yang kami temukan tersebut kami kumpulkan kemudian kami buatkan sebuah cerita atau suara dari anak yang kami tuangkan dalam bentuk sebuah buku. Buku itu nantinya akan diperkenalkan pada saat Musrenbang Anak 2017 pada tanggal 28 februari 2017, buku itu sekarang dapat dilihat di perpustakaan daerah Kabupaten Bantaeng.

 
Source : Dokumen Pribadi
Kiriman Lainnya