Oleh : Caecilia Ega Sanjaya
Kategori : AroundIndonesia

Aku bangun pagi dengan bersemangat di tanggal 2 April 2015. Seharusnya, hari ini aku libur. Tapi, khusus kelasku, akan KBM keluar ke candi-candi di DIY dan Jateng. Walaupun antar propinsi, tapi hanya 3 candi lho... candinya juga candi yang tanpa tiket masuk alias gratis. Pokoknya seru deh!

Sampai di sekolah, aku menunggu beberapa teman dahulu. Setelah yang lain datang. Kami mulai naik mobil yang kemarin sudah dijatah. Yang naik mobil keluargaku adalah aku, Ronald Vicky Christoper Panjaitan yang dari Batak alias Ronald (12 th), Rama Adi Susanto alias Rama (12 th), Gusti Putu Hary Wirananda yang dari Bali alias Nanda (12 th), Wanda Rahma Wardani alias Wanda R (11 th) karena ada 2 Wanda, dan Grace Pricilla alias Grace (11 th). Tapi juga ditambah pak Ifnu, guruku yang menyetir, dan mbak Erna, pendampingnya.

Pertama kami ke candi Sojiwan. Disana, kami mendengarkan penjelasan pak Timbul. Pak Timbul memberi penjelasan tentang ciri khas candi, bahan candi, dan lainnya.

“Nama candi berasal dari bahasa Sansekerta. Dari nama salah satu Dewi kematian, yaitu Dewi Candika. Candi untuk rumah dewi disebut Grha. Grha dibaca Gerha. Kalau ada yang berkata Graha, itu salah besar!” kata pak Timbul mengenai candi.

“Candi dibedakan dengan agamanya. Yaitu, agama Budha, yang ciri khasnya adalah stupa. Juga ada candi Hindu yang tidak memiliki stupa, dan candi Hindu Budha. Candi itu biasa disebut candi Campuran. Misalnya candi Singasari, yang rajanya ada raja Hindu, ada juga yang Budha.” Sambung pak Timbul.

Setelah ada beberapa orang yang bertanya, pak Timbul menyambung ucapannya. “Candi selalu menghadap ke
Barat atau Timur. Tapi, ada juga candi yang menghadap ke Barat Laut karena itu candi campuran Budha Hindu. Candi yang menghadap ke Timur berguna untuk memuja Tuhan mereka, yang disebut Dewa. Kalau ke Barat berguna untuk  memuja arwah Raja atau Dewa yang sudah meninggal.”

“Candi ada 2 gaya. Yaitu gaya Jawa Tengah yang dibangun abad 8-10. Lalu, ada candi gaya Jatim yang dibangun abad 11-15. Nama candi, dibuat berdasarkan nama desa terdekat. Contohnya candi Sambisari yang ada di desa Sambisari. Lalu, nama candi juga bisa berdasarkan legendanya. Contohnya, candi Roro Jonggrang atau Prambanan. Nama candi juga bisa berdasarkan peristiwa ketika ditemukan. Misalnya, candi Tikus, yang saat digali banyak tikusnya. Ada juga candi yang dinamai berdasarkan reliefnya. Misalnya candi Barong yang memiliki relief barongan. Kalau candi Sojiwan ini berdasarkan nama Ratunya.” Kata pak Timbul.

Setelah beberapa orang bertanya, aku mulai bertanya. “Mengapa candi tidak bisa lepas walaupun tidak disemen?” jawabannya adalah, karena dikaitkan dengan batu lainnya seperti dikunci.

Setelah tanya jawab, pak Timbul mulai menjelaskan tentang candi Sojiwan ini. “Candi ini adalah candi Budha. Candi Sojiwan dibuat abad ke 9. Candi ini berfungsi sebagai pemujaan arwah rajanya. Banyak batu-batu di candi ini yang sudah tidak asli. Yang tidak asli, sudah ditandai. Yang tidak asli hanya boleh dibentuk, tidak boleh diukir.” Kata pak Timbul.

Setelah pak Timbul memperbolehkan kami melihat candi itu, kami mulai melihat dan mengamati candi itu. Nama candi sojiwan berdasarkan nama ratu Sajiwan yang dulu berkuasa.
Setelah kami selesai melihat candi, kami masuk kembali ke mobil. Hua! Panas banget! Kami menuju ke candi Barong. Kata pak Timbul, candi Barong dinamai Barong karena ada relief barongan. Keistimewaannya ada di halamannya yang bertingkat 3, memiliki dinding seperti benteng, memiliki 2 candi yang tidak ada pintu masuknya.

Pokoknya  keren deh!
Candi Barong menghadap ke Barat. Itu artinya, fungsinya untuk memuja roh rajanya. Kalau Candi Sojiwan candi Budha, ini candi Hindu. Kata pak Timbul, candi ini dibangun abad ke 9. Tapi, pak Timbul tidak ikut ke Barong...
Sampai di Barong, aku langsung menulis info-info dan pengamatan di candi ini. Setelah menulis info dari bawah, aku langsung naik ke atas. Wah! Keren banget! Yogyakarta kelihatan!

Setelah kita naik, ternyata di candi Hindu ini ada bule. Katanya, dia dari Barcelona atau Manchester. Aku lupa. Pokoknya, antara 2 itu. Kami ditantang oleh guru bahasa Inggris kita, Mr. Beni. “Kalau berani ngajak ngomong bulenya itu, nanti nilainya tak tambah” kata Mr. Beni.

Aku, Willi, dan Nara mulai mengajak ngobrol bule itu. Tak lupa, mengajak berfoto. Setelah puas narsis, kita makan snack ringan dahulu. Yummy...

Setelah kenyang makan, kita bertemu dengan anjing di halaman Barong yang luas. Anjing itu sangat lucu. Kamipun bermain dengan anjing itu. Hingga tiba waktunya untuk kembali ke perjalanan dan ke candi terakhir.
Ronald, Rama, Nanda, Grace, Wanda R, dan aku kembali masuk mobil. Kami menikmati pemandangan indah dari atas bukit ini. Kami juga menikmati snack ringan yang dibawa Grace.

Akhirnya, sampai juga ke candi yang terpendam. Yap! Candi Sambisari memang candi yang terpendam sedalam 7 m. Katanya, candi ini dulu adalah sawah. Lalu, ketika petani mau membajak sawah, ditemukan benda-benda aneh. Arkeolog pun mulai meneliti. Akhirnya, jadilah candi yang terpendam.

Untuk ke candinya, kita harus menuruni tangga. Tapi, aku, Epy (Happy), Wanda R, dan Ellin malah turun lewat lerengnya. Kami juga malah main-main seperti perosotan. Lalu, kami berfoto di patung huruf R.
Setelah bermain-main, kami lalu makan siang. Hmm... enaknya... akhirnya, inilah sepenggal cerita di candi-candi... Aku ingin candi-candi di Indonesia tetap lestari, tak ada yang merusaknya.

Cerita ini termuat dalam buku "11 Ceritaku: Aku Lan Kowe Sedulur Saklawase" yang terbit pada tahun 2015. Buku tersebut dibuat oleh Caecilia Ega Sanjaya (aku)

SHARE!

Caecilia Ega Sanjaya

"Hai! Aku Caecilia Ega Sanjaya, salah satu penerima anugerah Tunas Muda Pemimpin Indonesia 2016 di Mataram, NTB. Aku adalah penulis cilik dan telah menerbitkan 4 buku. Menulis adalah hobiku, 'I can do it (Aku bisa melakukannya)' itulah mottoku."

Follow


4 Mading


Ekspedisi Uang seribu

Kategori : AroundIndonesia

Sejuta Mimpi di Tanah Gurindam

Kategori : AroundIndonesia

Keliling Candi DIY-Jateng

Kategori : AroundIndonesia