Oleh : Satriaandreaan
Kategori : Cerpen

Tentang pentingnya bahasa Indonesia.

           Namaku Maryah Arsianti, berumur 18 tahun. Di sebuah desa, jauh dari pusat kota, aku tinggal bersama ayah. Ibu? Ibuku telah pergi entah kemana, bagaikan di telan Bumi. Rumor yang kudengar, ibuku telah tiada. Setiap harinya, ayahku hanya bekerja sebagai seorang tukang ojek. Ia hanya peduli dengan dirinya saja, lebih tepatnya dengan perutnya. Karena itu, aku hampir setiap hari tidak makan. Aku harus mencari makanan sendiri agar dapat mengisi perutku yang kosong. Sesuap nasi saja itu sudah berarti bagiku. Kadang kala, ayahku tidak menghasilkan uang dari kerjanya. Ketika itu terjadi, ayahku selalu menyuruhku yang mencari makan untuknya. Mungkin ayah memperlakukanku seperti itu bermaksud baik. Aku dilahirkan tidak berpendidikan, sehingga aku tidak pandai menggunakan Bahasa Indonesia, hanya bahasa daerahku.

            “Maryah! Capek carian ayah makan!” (Maryah! Cepat carikan ayah makan!) ayahku menyuruhku yang sedang mencuci piring. Sedangkan ayah, hanya berduduk santai di kursi sambil menonton siaran berita.
            “Iyo ayah, sabanta,” (Iya ayah, sebentar,) akupun bergegas mencuci piring, lalu pergi mencari makanan yang bisa dimakan.

            Aku berjalan keluar rumah, melewati ayah yang sedang menonton. Aku tidak memiliki uang untuk membeli makan. Aku sudah kelaparan, tidak makan dari kemarin. Tetapi, aku harus memberikan ayah makan. Jika tidak, aku pasti diomelin dan disuruh keluar dari rumah. Jadi, caraku mencari makan yaitu cari buah-buahan dari pohonnya. Sangat susah mencarinya di era seperti ini. Polusi udara mencemarkan pepohonan sehingga susah untuk tumbuh. Aku terus berjalan, menahan rasa keroncongan perutku. Seakan bernada perutku meminta makan. Telah 1 jam aku berjalan, namun tidak melihat sebuah pohonpun berbuah.

    Sresssss......Sressssss........Sresssss.......

            Hujan deraspun turun, aku tidak tahu mau berlindung dimana lagi. Aku kelaparan menahan rasa lapar ini, ku terus berjalan mencari tempat berlindung. Seandainya ibuku berada di sampingku, akankah ini terjadi padaku? Aku rindu ia, aku mencintainya. Tapi kemana ia? Haruskah aku menjalani hari-hariku seperti ini? Aku lelah. Izinkan aku bertemu dengan Ibu, Tuhan.

            Gedebuk...

            Suara apa itu? Aku menoleh ke arah dimana suara itu berasal. Kelapa? Iya itu kelapa. Aku berlari mengejar sebuah kelapa yang jatuh itu. Dengan keadaan kepalaku pusing, aku berusaha menggapainya. Tapi disisi lain, juga ada seorang lelaki sebaya denganku ingin mengambilnya.

            “Hei! Itu punyo den,” (Hei! Itu punyaku,) aku kesal, orang tersebut telah mengambilnya. Tunggu, sepertinya ia Jeffrie, anak kepala desa.
            “Tapi, aku yang telah mengambilnya terlebih dahulu!” (Bahasa Indonesia) jawab Jeffrie melawan suara hujan.
            Apa yang ia katakan? Aku tidak mengertinya. Sementara aku sudah kelaparan.
            “Apo nan kau kecekan, Jeffrie? Awak ndak mangarati,” (Apa yang kau katakan, Jeffrie? Aku tidak mengerti,)
            “Maaf yo. Awak yang alah ma ambiaknyo talabiah dulu, jadi awaklah nan berhak manarimonyo,” (Oh maaf. Aku kan yang telah mengambilnya terlebih dahulu, jadi akulah yang berhak menerimanya!) Kata Jeffrie yang mengetahuiku tidak dapat berbahasa Indonesia, melawan suara hujan yang deras.

            Aku lelah, aku lapar, dan aku pusing. Itu yang aku ingat terakhir kali sebelum aku jatuh pingsan di tengah derasnya hujan. Pingsan itu membuatku bermimpi bertemu ibu, aku memeluknya dan mengatakan curahan hatiku. Aku menangis dipelukannya. Ia tersenyum kepadaku dan berkata “Tidak perlu mengeluh nak, ibu yakin kamu akan sukses nantinya, Berusahalah!” ibuku berkata lembut, ia menggunakan Bahasa Indonesia, dan aku tahu maksudnya.

            “Hey! Jagolah lai,” (Hey! Bangun dong,) Jeffrie membangunkanku denga cipratan air hujan yang ia tampung menggunakan tangan. Kami berada di sebuah pondok sekarang ini. Hujan masih seperti tadi.
            “E-eh,” aku terkejut.
            “Alah capek jago. Iko ha, den agihan karambianyo untuak kau. Sebagai raso maaf, den agiah kau duo buah karambia,” (Sudah cepat bangun. Ini, ku berikan saja kelapanya buatmu. Sebagai rasa maaf, kuberi kamu dua kelapa,)
            Aku memeluknya dan langsung menangis. Entah kenapa aku refleks langsung memeluknya, “Jeffrie, aden latiah. Baok den pai dari siko, ajaan den bahaso Indonesia. Den nio pai ka kota,” (Jeffrie, aku lelah. Bawa aku pergi dari desa ini, ajarkan aku Bahasa Indonesia. Aku ingin ke kota,)
            “Eh, de’a kau? (Eh, kamu kenapa?) tanyanya tak mengerti.
            “Ajaan selah den bahaso Indonesia, dan den ka pai ka kota. Mancari pitih,” (Ajarkan saja aku berbahasa Indonesia, dan aku akan pergi ke kota. Mencari uang,) aku masih berlinangkan air mata dan airnya melintasi pipiku.
            “Buliah senyo. Tapi jiko kau Maryah, nio ka kota.Pailah jo den,” (Boleh saja. Tapi jika kau Maryah, mau ke kota. Pergilah bersamaku,) Jeffrie sepertinya terharu mendengar perkataanku.
            “Oh Tuhan. Den batarimo kasih banyak kapado kau, Jeffrie,” (Oh Tuhan. Aku berterima kasih banget kepadamu, Jeffrie,) aku bahagia.
            “Tapi, lai bisa kau lapehan palukan ko, Maryah?” (Tapi, bisakah kau lepaskan pelukan ini, Maryah?)
            “Oh ya, maaf Jeffrie,” (Oh ya, maaf Jeffrie,)
            “Yo lah. Kalau model tu, satiok hari se wak latihan disiko. Kini kau buliah baliak,”  (Ya sudah. Kalau begitu, tiap harinya kita latihan disini. Sekarang kamu boleh pulang,)

            Kini hujan mulai Reda, ia menyuruhku untuk pulang. Kamipun menuruni pondok yang kami duduki tadi. Aku pulang sembari membawa dua buah kelapa. Keesokan harinya, aku dan Puji bertemu di pondok yang sama pada pukul tiga sore. Setelah aku membereskan pekerjaan rumah. Untung saja hari ini ayah dapat membawa makanan dan membagikannya kepadaku sedikit.

            “Hey Maryah, Lamo lai,” (Hey Maryah, lama banget,) Jeffrie mengomentari keterlambatanku.
            “Iyo Jeffrie, maaf,” (Iya Jeffrie, maaf,)
            “Yo lah kalau model tu, wak mulai selah balajarnyo,” (Oke, kalau begitu, kita mulai belajarnya,)

              Jeffrie pun mengajariku bagaimana cara berbahasa Indonesia. Ia membawa sebuah Kamus Besar Bahasa Indonesia dari rumahnya. Aku mendengar ucapannya dengan serius, seperti seekor Singa ingin menerkam mangsanya, serius sekali dengan matanya yang tajam. Ditengah-tengan belajar, kami istirahat dan makan sebentar. Jeffrie membawanya dari rumah, mungkin ia tahu aku hanya makan sedikit. Setelahnya, aku kembali serius. Mendengar ucapannya. Tiba saat menjelang maghrib, kami akhiri belajar Bahasa Indonesia hari ini. Dengan cepat, aku telah dapat menguasai beberapa kata yang sering digunakan untuk saling berbicara.

              “Eh bentar Maryah, coba kamu perkenalan diri menggunakan Bahasa Indonesia,”(Bahasa Indonesia) Jeffrie berkata dengan perlahan agar aku mengerti.
              “N-na-namaku Maryah Arsianti. Um-umurku 18 tahun,” (Bahasa Indonesia) aku masih mengeja.
              “Wah bagus, besok kita latihan lagi,” (Bahasa Indonesia)

               Setelah kami belajar tadi, ia lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia, agar aku terlatih. Senang bertemu dan belajar dengannya. Ia membangkitkan semangatku untuk menggapai masa depan. Aku yakin, setelah pandai berbahasa Indonesia, aku akan sukses.

               Beberapa minggu kemudian, aku telah lumayan pandai berbahasa Indonesia. Setiap hari aku dilatih dengan Jeffrie. Ia mengajariku dengan sungguh-sungguh. Aku sangat berterima kasih pada dirinya sebagai malaikat yang akan membawaku ke masa depan yang cerah. Aku berjalan menuju pondok untuk tekun belajar. Ternyata ia belum datang, jadi kutunggu saja ia di pondok sambil mencoba beberapa kalimat Bahasa Indonesia. Menjelang maghrib, ia juga belum datang. Akupun memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Tiba-tiba, hujan kembali turun. Aku terus berlari melawan hujan untuk sampai kerumahnya.Saat sampai, aku melihat hal yang tidak ku sangka-sangka. Mengapa ramai di rumahnya? Apa yang terjadi?

               “Bu Syitti, dima Jeffrie? (Bu Syitti, Jeffrie mana?) aku berbicara kepada ibunya. Ia sedang mengalirkan air mata.
               “Jeffrie, Jeffrie lah pai. Inyo pai dek panyakik maag nan dideritanyo. Inyo manitipan sesuatu ka ibu untuak diagiahan ka Maryah,” (Jeffrie, Jeffrie sudah pergi. Ia pergi karena penyakit maag yang ia derita. Ini, ia menitipkan sesuatu ke ibu untuk diberikan ke kamu,) Ibu Syitti mengelap air matanya.
                 “Apo?” (Apa?) aku berlari masuk ke rumahnya melewati beberapa orang yang sedang berbela sungkawa di teras rumahnya.

                    Kenapa ini terjadi pada diriku, Tuhan? Sakit, hatiku sakit. Air mataku mengalir tak dapat terhentikan. Jeffrie rela memberikan kelapa kepadaku, padahal sebenarnya ia sedang kelaparan juga. Aku egois, aku egois, aku egois. Aku berlari keluar, membuat air mataku bercampur denga hujan. Ku biarkan air mataku bercampur. Tak peduli apa yang ada disekitarku. Aku hanya menginginkan malaikatku kembali. Aku seperti merasakan pelukannya melalui hujan. Aku berlari menuju pondok, tertidur disana.

                    “Kukuruyuk.....” suara ayam.

                    Aku benci alam semesta ini. Setelahku terbangun, aku langsung pulang ke rumah dan mengambil semua barang-barangku. Ku pecahkan celenganku, isinya berjumlah sejuta. Uang ini telah kutabung selama 3 tahun. Aku menyelinap keluar rumah sembari membawa semua barang-barangku. Aku pergi menuju ke stasiun bus untuk pergi ke kota. Bermodalkan Bahasa Indonesia yang telah kupelajari. Sampainya disana, aku membeli tiket dan pergi ke kota. Di dalam bus, aku menemukan seorang ibu-ibu.

                   “Dek, kamu pandai Bahasa Indonesia,” (Bahasa Indonesia) tanya ibu itu yang duduk di sampingku.
                   “Alhamdulillah saya pandai bu. Kenapa ya?” (Bahasa Indonesia) aku berusaha untuk tidak mengingat Jeffrie dan menahan air mata.
                   “Wah kebetulan dek, ibu ada usaha kuliner, ibu mencari-cari orang di desa ini yang pandai berbahasa Indonesiadan pandai memasak. Tapi masalahnya, tidak ada satupun penduduk desa yang dapat berbahasa Indonesia. Padahalkan penduduk desa ini terkenal akan masakannya yang enak. kamu mau jadi kokinya?” (Bahasa Indonesia) ibu itu terlihat gembira.
                   “Mau bu, kebetulan saya  ke kota untuk mencari pekerjaan,” (Bahasa Indonesia)
 
                   Akhirnya, aku dapat pergi ke kota dan langsung mendapatkan pekerjaan sebelum kesana. Ini karena Jeffrie, ia mengajariku berbahasa Indonesia. Awal perjalananku memulai bekerja, aku akan terus berusaha mempelajari Bahasa Indonesia lebih dalam. Supaya aku dapat berbaur dengan seluruh penduduk Indonesia melalui bahasa pemersatu bangsa, yaitu Bahasa Indonesia. Ibu ini, menolong hidupku. Maafkan aku ayah, tidak memberi tahumu bahwa aku ke kota. Tetapi, aku telah meninggalkan sepucuk surat di atas meja. Berharap ayah dapat membacanya. Aku tidak perlu membenci dunia, aku tidak perlu berkata tuhan jahat, aku salah. Setelah hujan akan ada pelangi, Tuhan akan selalu memberikan kebahagiaan setelah kesedihan. Setiap hujan turun, aku akan bermain dibawahnya. Karena saat itulah, malaikatku memelukku. Dari jatuhnya sebuah kelapa, aku dapat belajar bahasa pemersatu bangsa. Aku akan menjadi seorang sukses dimasa depan dan bangga dapat menggunakan bahasa Indonesia untuk menjalinkan percakapan sesama penduduk Indonesia.  

Maafkan karya Satria yang sederhana, yang mungkin membosankan, hehe. Disini Satria juga masih belajar dan akan terus belajar. Saran dan kritikan dapat dikirimkan melalui dm diinstagram (@satriaandreaan) atau email (satriaandrean18@gmail.com) ya! Bagi teman-teman yang ingin memberi saran atau kritikan. Terima kasih...

SHARE!

Satriaandreaan

"Saya Satria, berasal dari Kota Batam. Memiliki aksi yang bertemakan "Save Our Children For The Future"."

Follow


6 Mading


Bermain Untukku

Kategori : Cerpen

Harapanku Anak Negeri

Kategori : Cerpen

Kelamku adalah Kamu

Kategori : Cerpen