Oleh : Satriaandreaan
Kategori : Cerpen

Bintang gemintang bergelantungan di langit yang hitam. Bintang dan bulan berpadu untuk menerangi bumi yang kelam. Angin malam berhiuk-hiuk kesan-kemari. Aktivitas perkotaan mulai menyepi. Menyisakan mobil-mobil yang terparkir dipinggir jalan.

            “Lisa, tidur lagi nak,” Sahut ibu dari teras rumah.
            Aku yang berada di taman rumah, berlari mendekati ibu di teras, “Iya Ibu, sebentar.”
            “Kamu baca apa itu?” tanya Ibu ketika melihat apa yang aku pegang.
            “Ini Bu, cerita yang kemarin kita beli,” raut wajahku berubah menjadi sedih.
            “Lho, kok wajah Lisa sedih?” tanya ibu sambil merunduk memegang kedua pipiku.
            “Ceritanya sedih Ibu, Lisa kasihan,” tatapku kepada Ibu.
            Ibu hanya membalasku dengan senyuman. Lalu, membawaku ke kamar tidur.
            “Lisa tidur ya, besok sekolah!” senyum Ibu sambil menyelimutiku.
            “Ya, Ibu,” raut wajahku membaik setelah melihat senyum Ibu yang amat indah.
 
Ibu keluar dari kamar tidurku, sekaligus mematikan lampu kamar tidurku. Tak lama setelah ibu keluar dari kamar. Aku tertidur dan bermimpi.

--
           
Matahari mulai memunculkan rupanya. Dunia belahan timur mulai dicahayai oeh sinarnya. Burung-burung berterbangan, saling bersahutan dengan burung lainnya. Siulan dari burung-burung itu seakan membuat kegemuruhan di kota. Pagi ini, perkotaan kembali disuguhkan dengan polusi-polusi dari kendaraan milik orang dengan berbagai profesi. Tak ada yang berbeda dari pagi ini. Hanya saja, ada sebuah hal yang mengganjal kini di hatiku, yaitu tak biasanya burung-burung berterbangan dengan berbondong-bondong serta mengeluarkan siulan yang membuat keberisikan di kota. Sungguh aneh.
           
Pagi ini, aku diantarkan oleh ibu ke sekolah. Kami menelusuri jalanan perkotaan dengan berjalan kaki untuk menuju stasiun kereta bawah tanah daerahku. Selama berjalan, ibu hanya menyibukkan diri dengan telephone pintarnya. Sedangkan aku kini mengamati keganjalan yang kedua, yaitu jalanan yang mulai meretak. Hal ini, meningatkanku terhadap burung-burung itu yang masih berterbangan kesana-kemari.
           
“Bu, jalanannya kok retak ya?” tanyaku sambil berjalan di samping ibu.
           
Ibu hanya diam dan terus sibuk dengan telephone pintarnya.
           
Ku tarik nafas, lalu aku menghembuskannya. Kenapa dunia ini tercipta sebuah telephone pintar? Aku sungguh membencinya. Telephone pintar membuat manusia tidak menghargai lawan bicaranya. Walaupun aku baru kelas 3 sekolah dasar, aku adalah anak yang suka berpikir dan mengamati. Aku kembali mengamati jalanan yang terus meretak. Keramaian pejalanan kaki pada tidak menghiraukan hal yang terjadi di sekitarnya. Mereka hanya menyibukkan diri dengan telephone pintarnya. Hanya beberapa pejalan kaki yang aku lihat tidak memainkan telephone pintar. Tetapi, mereka yang tak memainkannya berlari cepat diantara keramaian pejalan kaki untuk mengejar waktu.

            “Lisa?” tanya ibu berpaling sejenak dari telephone pintarnya.
            “Ya, Ibu,” sahutku balik.
            “Ibu merasa ada yang mengganjal di hati Ibu, tapi Ibu gak tau apa,” raut wajah ibu menyedih.
            “Hm... Gak ada yang aneh kok Bu,” aku berbohong, demi menghilangkan perasaan buruk Ibu.
            
Ibu melanjutkan memainkan telephonenya, mengakhiri percakapan singkat ini.
           
Hal yang ibu katakan tadi semakin membuat pagiku ini seperti ada yang mengganjal. Setelah beberapa menit menelusuri jalanan kota, akhirnya kami sampai di stasiun kereta bawah tanah. Stasiun keretanya dipenuhi oleh keramaian orang-orang dengan berbagai profesi. Kecuali, tikus-tikus berdasi yang mengenakan mobil pribadi mereka. Saat di Stasiun kereta bawah tanah, tak sengaja butiran-butiran pasir dari atap stasiun mengenai rambutku. Lalu, aku mengusap rambutku. Aku melihat di telapak tanganku ada butiran-butiran pasir. Setelah melihat telapak tanganku, tatapanku tertuju ke tempat dimana butiran pasir itu berjatuhan. Aku dan ibu terus berjalan menuju ke tempat kereta berada. Tatapanku tetap tertuju ke tempat butiran pasit berjatuhan. Sekilas, jika tidak diperhatikan butiran yang berjatuhan itu tidak terlihat. Hanya dapat terlihat jika fokus. Semakin lama, aku dan ibu semakin jauh dari tempat dimana butiran pasir itu jatuh. Aku mulai tidak memperhatikannya lagi. Kini, kami telah memasuki kereta bawah tanah. Setelah melakukan transaksi melalui kartu khusus pembayaran transportasi. Ketika aku memasuki kereta, tidak ada hal aneh yang terjadi. Orang-orang hanya menyibukkan dirinya dengan telephone genggamnya, tak terkecuali ibuku. Sekolahku tak jauh dari tempat kami berada, hanya perlu melewati tiga pemberhentian stasiun.
           
Setelah beberapa menit, aku dan ibu sampai di stasiun yang kami tuju. Kami berjalan menuju sekolahku. Ketika mengeluari stasiun kereta bawah tanah, penampakan yang terlihat masih saja sama seperti sebelumnya, burung berbondong-bondong, jalanan semakin retak, dan angin mulai berhembusan. Aku memberanikan diri bertanya kepada ibu sekali lagi.
            “Ibu, kok jalanan retak dan burung-burung berbondong-bondong berterbangan ya?” tanyaku sembari menatapnya.
            “Tidak akan ada yang terjadi kok,percayalah kepada Ibu, Lisa,” kali ini Ibu menajawab pertanyaanku sambil tersenyum kepadaku.
           
Namun, bukan jawaban itu yang kuinginkan. Hal itu tidak dapat menentramkan hatiku. Bisakah ibu menjelaskannya secara ilmiah? Janganbiarkan pertanyaanku ini hanya menjadi sebuah pertanyaan. Tuhan, apakah hal yang mengganjal ini nyata?

            “Lisa, dah sampai,” ibu mengusap rambutku dan tersenyum.
            “Ya, Ibu,” jawabku lemas.
            “Hati-hati ya di sekolah, balik sekolah nanti ibu jemput.”
           
Aku bersaliman kepada ibu. Kini, aku mulai memasuki sekolahku. Dari kejauhan masih terlihat ibuku yang masih mengawasiku. Hingga akhirnya ia pergi kembali ke stasiun untuk pulang. Kunaiki anak tangga satu persatu dengan rasa sendu di hati. Hingga akhirnya aku sampai di lantai tiga, tempat dimana kelasku berada.

            “Lisa!” sahut gembira Keisa, teman sebangkuku.
            “Hai,” senyumku dengan rasa malas.
            “Kamu kenapa, kok  lemas?” tanya keisa.
            “Gak apa-apa kok,” aku duduk di bangkuku dan merenung di kursi.
           
Keisa tak bertanya atau menjawab perkataanku. Ia tahu perasaanku kurang baik, tapi ia tak tau kenapa.
           
Tiba-tiba, ruangan kelasku terasa bergoyang. Kali ini bukan hanya aku yang menyadari. Semua orang menyadari apa yang terjadi. Aku berlarian keluar kelas bersama teman-temanku dan pelajar lainnya. Dengan secepat mungkin aku menuruni anak tangga. Inilah hal yang aku pikirkan sejak mengetahui banyak hal ganjal terjadi. Gempa. Ya, gempa sedang terjadi. Terdengar keributan dimana-mana. Aku berlarian menerobos yang lainnya secepat mungkin. Menyenggol mereka yang juga sedang berlari.

            “Maaf,” kataku ketika menyenggol seseorang.
           
Aku terus berlarian, hingga aku sampai di lantai dasar. Aku bingung harus kemana. Gedung sekolahku sudah mau runtuh. Para guru sibuk membantu pelajar yang sedang panik. Aku langung berpikir cepat, aku ingin menyusul ibu. Ibu pasti sedang berada di stasiun. Segera aku berlarian menuju ke luar sekolah. Namun, tiba-tiba seorang guru menarik lenganku. Ku tolehkan wajahku kepadanya. Bu Derni, ia wali kelasku.

            “Bu Derni, lepaskan Bu! Saya mau pergi ke stasiun, menemui ibu saya!” tangisku.
            “Lisa, diluar bahaya, kamu tidak boleh pergi kesana!”
            “Tapi Bu-“
            “Gak boleh Lisa, berbahaya!”

           
Aku berusaha melepaskan genggaman tanganku dari Bu Derni. Berbagai cara aku lakukan untuk melepaskan tanganku dari Bu Derni. Hingga ia melepaskan tanganku ketika aku menggigitnya. Aku melanjutkan menuju keluar sekolah. Terlihat dari kejauhan gedung-gedung tinggi mulai runtuh. Mobil-mobil berserakan jalanan.

            “Lisa!” sahut Bu Derni.
           
Aku tidak menghiraukannya. Terus berlari menuju keluar sekolah. Ya tuhan, hanya kepadamu aku dapat berlindung. Selamatkan ibuku, Tuhan. Aku terus berlari, berlari, dan berlari. Hingga akhirnya aku berada di luar sekolah. Kusaksikan berbagai orang berhamburan kesana-kemari mencari tempat yang aman. Runtuhan perkantoran berjatuhan, aku tetap berlari. Air mataku terus berjatuhan. Yang tadinya orang-orang hanya sibuk dengan telephone pintarnya, kini berhamburan. Tiba-tiba, runtuhan gedung jatuh tepat di atasku. Aku terus berlari. Namun, runtuhan itu semakit dekat.

            “Tidak!” aku berteriak.

Tiba-tiba, ada yang mendorongku dari belakang. Aku terjatuh dan masih hidup. Hanya terluka sedikit. Tapi orang yang mendorongku tadi, tertimpa runtuhan gedung yang hampir mengenai diriku. Aku semakin histeris, menyaksikan orang tersebut yang bergelimpangan darah, tak sadarkan diri. Tapi, aku tetap harus berlari ke stasiun. Untuk mencari ibuku. Selang beberapa menit, aku sampai. Namun, yang kulihat stasiun kereta bawah tanah telah runtuh. Seketika aku duduk tersimpu di jalanan. Menangis histeris diantara ribuan orang yang berlarian kesana-kemari menyelamatkan diri.

            “Ibu!” teriakku dengan sekuat mungkin.
            Ya tuhan, inikah jalan hidupku?
            “Ibu, Lisa disini tersimpu sendiri Bu!” histerisku semakin menguat.
            Kusaksikan banyak orang berhamburan, bersiuran darah, tersimpu sepertiku.
            “Ibu, Lisa gak sanggup Bu menyaksikan ini semua. Lisa masih kecil, Lisa sayang Ibu!”
            Ku terkejut, ketika ada yang menyentuh bahuku. Aku menoleh kepadanya.
            “Ibu!” teriakku dengan histeris.
            “Lisa! Lisa! Bangun nak,” ibu tertawa melihatku.

Aku terbangun. Astaga! Ini hanya sebuah mimpi. Oh Tuhan, aku usap pipiku. Ternyata aku mengeluarkan tetesan air mata yang mengalir melintasi pipiku.

            “Kamu kenapa nak?” tanya ibu dengan memelukku.
            “Lisa mimpi buruk Bu, ceritnya seperti buku yang Lisa baca tadi malam.”
            “Oh ya?” ibu berakting seakan kaget.
            “Ibu!” marahku.

Ternyata ini semua hanya mimpiku sebagai Lisa. Cerita sedih itu tak sengaja menghampiri mimpi dalam tidurku. Aku bersyukur bahwa itu hanya mimpi. Mimpi yang mengganjal. Mimpi dengan seribu tumpah ruah air linangan. Pelukan ibu menghangatkanku. Mimpi ini, adalah kelamku. Aku menoleh ke jendela, pagi yang nyata menghiasi dunia. Bintang gemintang berganti menjadi matahari, dan matahari berganti menjadi bintang gemintang. Begitulah seterusnya dunia ini. Pagi ini, tak ada yang mengganjal di hatiku. Tak ada jalan yang retak, tak ada burung-burung berbondong-bondong berterbangan. Pagi ini, pagi seperti biasanya. Dan aku, aku seperti biasanya. Seorang yang suka berpikir dan mengamati.
           
           
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

SHARE!

Satriaandreaan

"Saya Satria, berasal dari Kota Batam. Memiliki aksi yang bertemakan "Save Our Children For The Future"."

Follow


6 Mading


Bermain Untukku

Kategori : Cerpen

Harapanku Anak Negeri

Kategori : Cerpen

Kelamku adalah Kamu

Kategori : Cerpen