Oleh : Pengurus Mading
Kategori : Karya Tulis

Oleh Yoana Dhita :

Namaku zaina, aku berumur 15 tahun, aku terlahir dari seorang ibu, namun entah siapa dan dimana, yang kutahu sejak kecil aku diurus oleh nenekku, nenek yang sangat baik, yang telah menyekolahkanku hingga aku SMP, walaupun aku tak mampu melanjutkan sekolahku, karena nenekku telah meninggal. Ya, Beliau meninggal tertabrak mobil, aku tahu persis kejadiannya, saat itu aku baru pulang sekolah, jalanan sedang sepi, aku melihat nenek sedang hati-hati menyebrang,beliau baru pulang dari tempat kerjanya, tempat pengolahan sampah, beliau menyebrang  dengan perlahan dan membungkuk, raganya  terlihat lemah namun sungguh hati dan jiwanya begitu kokoh, aku begitu banyak merepotkan hidupnya, hingga tak terasa air mataku terjatuh, ah.. Aku sangat menyayanginya, aku pun mempercepat langkahku untuk menemuinya, namun sejurus kemudian, mobil mewah  berwarna merah melaju dengan cepat dan menabrak nenekku, ya  mobil mewah itu menabrak malaikat pelita hidupku, aku berlari dan berteriak, hingga kaku tubuhku, saat ku lihat nenekku bersimbah darah, aku tak mampu menahan tangis, aku terus memanggil nenek, berharap ia menjawab.

Sesaat kemudian seorang pria tinggi memakai jas dan berdasi keluar dari mobil mewah tadi, dan berkata “Nak, saya harus segera pergi ke kantor, bawa saja nenekmu itu ke rumah sakit. Ini uangnya.”

Lelaki gagah itu memberikan 5 lembar uang seratus ribu rupiah, dan pergi tanpa rasa bersalah. Sungguh sombong dan tak berhati lelaki. Dia tak tahu, bahwa nenekku adalah segalah dihidupku.

Aku masih tak bisa berkata apapun, sedang  mobil mewah yang merenggut nyawa nenekku itu benar-benar berlalu. Aku segera berteriak dan mulai ada beberapa orang menghampiriku lalu membawa nenekku ke rumah sakit, walau akhirnya nenekku tak terselamatkan. Sungguh mimpi buruk. Aku tak tau harus bagaimana.  Aku pun berjalan menyusuri kota Jakarta, hingga aku bertemu dengan Jingga, seorang yang sepertinya sebaya denganku, memakai baju *orange* yang terlihat luntur dan dekil, tak jauh berbeda denganku, namun senyumnya terlihat tulus, kami tak sengaja bertemu,saat aku sedang duduk kebingungan dan masih dirundung kesedihan, dia datang sembari berkata “hi, kau kenapa ?” Aku pun menceritakan semua yang terjadi dengan tersedu. Dia ikut tersedu dan berkata “sabarlah kawan, tuhan bersamamu.”

Dia pun mengajakku untuk tinggal bersamanya di rumah pelangi. Aku lalu mengikutinya, dalam hati aku bertanya, apakah rumah pelangi yang ia maksud. Tak lama, sampailah di rumah pelangi, ternyata, rumah yang dimaksud adalah rumah dari kardus yang jendelanya bergambar pelangi. Jingga berkata “inilah, rumah pelangi, rumah yang kami buat dengan penuh harapan.”

“kami ?” Tanyaku.

“ya, disini kau akan tinggal dengan aku dan teman-temanku, tuh mereka.(sambil menunjuk kearah 6 orang anak dengan karung dipunggungnya).

“aku pun mualai beradaptasi dengan mereka, mereka saling mengerti, mungkin karena nasib kami tak jauh berbeda.”

***

Suara jingga sudah terdenggar pagi itu, seperti biasanya dia akan berteriak ditelinga kami “ayo bidadari pelangi, cepat bangun, kita wujudkan harapan-harapan kita.”

Dan kalimat itu mampu membius kami untuk langsung terbangun.  Kami pun bersiap, bersiap untuk kegiatan rutin setiap hari, tapi bukan kegiatan rutin mereka yang seumuran kami yang biasa melintas dengan motor-motor besar yang bising serta mengenakan pakaian seragam. Ya.. Aku dan teman-temanku bersiap untuk menyusuri jalan kota Jakarta, menyusuri gedung-gedung istana dengan hiasan permata, kami yang dengan kaki telanjang serta karung yang setia menggantung di bahu tak cukup membuat mereka yang berbadan tegap dan orang-orang yang biasa memasuki istana-istana itu, dengan bajunya yang kelap-kelip untuk membantu kami, suatu hari, pernah aku bertanya pada orang-orang berbadan tegap itu “pak, apakah ada sampah-sampah yang bisa didaur ulang?” Karena kupikir pasti sampah-sampah mereka banyak. Namun salah satu dari mereka menjawab “hi anak dekil, pergi saja kau, mengganggu keindahan saja, pemilik rumah ini sangat tak suka bau anak-anak dekil seperti kau, cepat pergi sebelum tuan rumah keluar.” Begitu sakit rasanya mendengar kalimat kasar itu.

Saat aku pulang ke rumah pelangi, aku menceritakan pengalamanku itu kepada jingga dan teman-teman yang lain. Tapi mereka hanya tertawa dan berkata “kamunya saja tidak tau diri, orang-orang seperti kita pasti akan diperlakukan seperti itu, sudahlah tak usah dipikirkan Zaina.”

Bukankah dimata tuhan setiap orang itu sama ? Batinku. Setiap kali aku lewat ke rumah-rumah seperti istana yang lainnya, perlakuan mereka hampir sama, Jangankan membantu, seulas senyum tak kami dapatkan, hanya tatapan ganas dan jijik seolah berkata “menyingkirlah.”

Tapi biarlah, aku semakin mensyukuri hidupku, aku memang hampir tak punya apa-apa, hanya teman teman rumah pelangi yang kupunya, aku bersyukur tidak menjadi bagian dari orang orang sombong itu, yang bahkan mungkin keangkuhannya menghapuskan Tuhan dari kehidupannya.

***

Kirim karya kamu ke Mading Statusfan.com
 

SHARE!

Pengurus Mading Terverifikasi

"Pengurus Mading Online, Yuk Kirim Karya kamu ke Mading Online Statusfan.com"

Follow


2 Mading


Hak Pendidikan bagi Anak

Kategori : Karya Tulis

Diary Oci...

Kategori : Karya Tulis

Asal Usul Doraemon

Kategori : Karya Tulis