Oleh : Uiaciel
Kategori : Liputan

Jakarta, 5 April 2017  Hari ini, bertempat di Pendopo kota Bandung, puluhan anak muda mendeklarasikan dukungan agar Presiden mengaksesi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Deklarasi dibacakan oleh sekelompok aktivis muda pengendalian tembakau, di akhir acara talkshow inspiratif Dari Bandung Untuk FCTC.  Para aktivis mewakili sejumlah organisasi dan komunitas pemuda, seperti Smoke Free Bandung, Forum Anak Jawa Barat, Forum Anak Yogyakarta, Gerakan Muda FCTC, Komunitas Peduli Udara Bersih (Kopdar), dan Pembaharu Muda. 


Menurut juru bicara Smoke Free Bandung, Firman Prawira Kusumah, isi deklarasi mencakup dua hal penting. Pertama, komitmen anak muda mendukung Presiden mengaksesi FCTC, dan kedua, komitmen untuk bergerak bersama-sama mengajak anak muda mendukung FCTC. Ini sebagai bentuk dukungan kami kepada Presiden yang bertekad menurunkan prevalensi perokok muda, ujarnya.

Firman menjelaskan, salah satu target pemerintah dalam Rencana Pengembangan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 adalah menurunkan prevalensi merokok penduduk usia di bawah 18, dari angka 7,2% pada 2013 menjadi 5,4% pada 2019. Bila angka perokok muda tidak ditekan, sangat mustahil Indonesia mendapat bonus demografi yang puncaknya berada pada 2045. Anak-anak yang merokok sejak usia muda akan terancam berbagai penyakit akibat merokok di usia produktif mereka, karena penyakit akibat mengonsumsi rokok baru dirasakan oleh perokok dalam rentang 10-15 tahun kemudian, tambah Firman, yang menjadi pembicara acara talkshow inspiratif.

Senada dengan Firman, Juru Bicara Gerakan Muda FCTC, Margianta Surahman, juga prihatin dengan tingginya angka perokok muda. Indonesia sudah darurat rokok. Saat ini 19,4% remaja menjadi perokok aktif dan hampir 15 juta anak usia 5-9 tahun menjadi perokok pasif karena terpapar asap rokok, kata Gian, panggilan akrabnya. 

Untuk menekan jumlah perokok muda, Gian mengharapkan pemerintah berkomitmen membuat regulasi menyeluruh. Semua aspek diatur, mulai dari pembatasan produksi rokok, pembatasan akses rokok kepada anak, hingga melarang total iklan rokok yang bertujuan membujuk anak muda merokok, tegasnya. Regulasi yang paling efektif untuk mengatur semua aspek tersebut menurut Gian adalah FCTC.

Gian menyayangkan Indonesia belum mengaksesi FCTC yang sudah ditandatangani 190 negara di dunia. Padahal Indonesia adalah inisiator lahirnya FCTC, dan aktif dalam pembahasannya sejak 1999. Karena belum aksesi FCTC, membuat Indonesia menjadi tujuan pemasaran industri rokok multinasional. Ini beresiko merusak kesehatan generasi bangsa. Bila banyak anak muda di Indonesia sakit-sakitan akibat merokok, kita tidak hanya terancam gagal menikmati Bonus Demografi,  tapi juga gagal mendapatkan generasi emas di masa depan, papar Gian. 

Selain Firman dan Gian, acara talkshow juga menghadirkan pembicara Widya Nindy Nastiti, Pembaharu Muda kota Jember dan Desi Rahmawaty, penggerak FCTC di kalangan mahasiswa. Acara talkshow bertema Dari Bandung untuk FCTC ini digagas bersama oleh Yayasan Lentera Anak dan  Smoke Free Bandung (SFB) Fikom Unisba. Peserta talkshow merupakan mahasiswa perwakilan dari berbagai universitas di Kota Bandung yang peduli dengan isu pengendalian tembakau, dan beberapa siswa perwakilan sekolah yang pernah mengikuti pelatihan Satgas KTR (Kawasan Tanpa Rokok).

FCTC Youth Summit
Selain menyuarakan dukungan untuk aksesi FCTC dan talkshow inspiratif, kumpulan mahasiswa dan aktivis muda pengendalian tembakau ini juga meluncurkan FCTC Youth Summit, sebuah acara nasional yang akan dihelat di Bogor pada awal Mei mendatang. Menurut Iman Mahaputra Zein, Youth Empowerment Officer Lentera Anak, penggagas  FCTC Youth Summit, acara ini bertujuan mengkolaborasikan anak muda dari berbagai daerah di Indonesia untuk membangun gerakan bersama dan mendeklarasikan dukungan secara nasional agar Presiden segera mengaksesi FCTC.

Banyak anak muda di Indonesia sudah menjadi penggerak pengendalian tembakau. Mereka tersebar di berbagai pelosok negeri, dipersatukan oleh kesamaan tekad untuk melindungi generasi muda dari kehancuran akibat merokok. Ini membuktikan bahwa anak muda tidak pernah berhenti bersuara , kata Iman. Ia berharap FCTC Youth Summit bisa menjadi wadah bagi aktivis muda untuk berkolaborasi dan merapatkan barisan, menyusun strategi efektif dalam mendukung Indonesia aksesi FCTC.

Tentang pemilihan Bandung sebagai kota peluncuran FCTC Youth Summit, jelas Iman, sebagai apresiasi atas komitmen warga dan pemkot Bandung dalam mendukung aksesi FCTC. Selama ini Smoke Free Bandung bersama komunitas pemuda dan Dinkes  Bandung sudah membuat banyak program kreatif terkait pengendalian tembakau. Seperti progam sosialisasi ke kampus-kampus, kampanye di media sosial, pelatihan, dan beragam survei tentang dampak iklan rokok dan penjualan rokok kepada remaja.

Terakhir, Bandung sudah memiliki Peraturan Walikota (perwakot) Bandung Nomor 315/2017 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Ini sebuah langkah besar bagi kota Bandung, karena tujuan perwakot untuk melindungi kesehatan masyarakat dari dampak rokok dan menekan pertumbuhan perokok pemula. Ini sejalan dengan komitmen pemerintah pusat untuk menekan prevalensi perokok muda, tegas Iman. 

SHARE!

Uiaciel Terverifikasi

"Founder Statusfan.com, Anak muda yang aktif berkegiatan dan berbagi dengan anak-anak indonesia."

Follow


182 Mading