Oleh : Muhammad Rafly Ritonga
Kategori : Cerpen

DIBALIK KEMERDEKAAN
Karya : Muhammad Rafly Ritonga
 
Aku Rafly, anak berusia 13 tahun yang ingin menjadi salah satu dari serdadu pemerduli anak-anak Indonesia di zaman millennials ini. Aku sungguh perihatin dengan anak–anak Indonesia sekarang, semua anak selalu sibuk dengan gadget mereka masing-masing, dan melupakan kebudayaan nya. Hampir rata–rata anak di Indonesia telah terkontaminasi hal – hal yang negatif, ditambah lagi dengan orang tua mereka yang mungkin saja tak memberikan perlindungan dan perhatian yang penuh lagi bagi anak – anak nya dikarenakan sibuk bekerja.

Hari ini 17 Agustus, hari kemenangan kita semua, bangsa Indonesia, MERDEKA!!!

Pagi ini aku akan pergi ke lapangan untuk melihat lomba dan permainan tradisional yang sudah lama tak kujumpai lagi. Kuambil sepeda warna putih ku, lalu aku pergi. Setengah perjalanan sudah ku lewati tinggal setengah nya lagi. Di jalan, lampu merah memberhentikan ku tepat di per empatan jalan Adam Malik, Medan. Ku lihat – lihat di sekeliling ku, dan mata ku tertuju pada satu orang anak laki – laki yang terduduk diatas trotoar sebrang jalan dan tertunduk lemas sambil memegang segelas cup air mineral bekas yang telah habis airnya ditangan kanan nya.

Sudah lampu hijau kembali, ku kayuh sepedaku dan berhenti tepat di sampingnya. Lalu aku duduk disebelahnya dan menawarkan sebotol air mineral padanya, “Aku ada air nih, ini untukmu” kataku. Dia langsung merampas air itu tanpa ter ucap satu kata pun dari nya. “ Hai, nama mu siapa?’ tanyaku. “Aku jhon” jawabnya dengan singkat. “Umur mu berapa?” tanya ku lagi. Kepalanya terangkat dan melihat ke arahku, “11 tahun”  Jawabnya lantang. Ku lihat matanya yang ber kaca-kaca, kulihat pipi kanan nya yang lebam, kulihat tangan kirinya yang biru, dan kulihat telapak kakinya yang terbakar.

“Kenapa kau menangis? Hari ini kan kemerdekaan Indonesia, harusnya kita berbahagia dong.” Kataku.

“Jika aku ceritakan keadaan ku sekarang pada kau, apa kau bisa menyelesaikan masalahku?! Lagipula merdeka
hanya omomg kosong bagiku bila semua rakyatnya masih terjajah oleh bangsanya sendiri” jawabnya keras.

“ Apa maksudmu?” Tanya ku lantang.

“ Merdeka tak akan pernah dirasakan bagi anak jalanan sepertiku ini, yang hidup sendirian di kota yang sangat kejam, tanpa kasih sayang dan perlindungan dari ayah, ibu, sanak keluarga, ataupun sahabat. Apalagi mendapatkan pendidikan!!! Hah... Mustahil itu aku dapatkan. Malahan aku mendapat siksaan dan paksaan bekerja disini” Jawabnya dengan sangat marah.

“ Ayah dan ibu mu kemana? “ Aku bertanya pelan.
 
“ Ayah dan ibu ku pergi jauh entah kemana. Aku sudah dititipkan dengan nenek ku sejak umurku 5 tahun, dan pada usia ku 8 tahun nenek ku meninggal. Kata beliau orang tua ku menitipkan ku padanya karena orang tua ku tak mampu membiayaiku. Dan sejak nenek ku meninggal aku jadi anak yang terlantar” Jawabnya.

“ Lalu siapa yang memaksamu bekerja dan menyiksamu?” Tanyaku lagi.

Hah... Sayangnya kau anak orang kaya yang mampu beli ini dan itu serta semua kebutuhan mu terpenuhi. Tapi kau gak tahu bro... Disini ribuan orang jahat bertebaran dimana – mana. Mereka lah yang memaksaku bekerja dan harus mendapatkan uang 500.00 setiap  seharinya, kalau tak dapat, bersiaplah aku akan di siksa mati-matian. Dimana perlindungan dari pemerintah itu? Tak ada satu pun yang kurasakan darinya.” Jawabnya keras sekali.

“ Jangan tanya apa yang diberikan Indonesia padamu, tapi tanya apa yang kau telah berikan pada Indonesia” Sanggah ku.

“ aku tak bilang Indonesianya yang salah tapi pejabat dan perintahnya yang salah. Mereka hanya sibuk menggerogoti uang rakyat dan membiarkan rakyatnya mati menderita. Walaupun aku bukan anak yang berpendidikan, tapi masih sangat kurasakan ketidak adilan itu” Jawabnya marah-marah.

Aku terdiam dan terkejut.

“ Apa?! Apalagi yang mau kau tanyakan?!” Tegasnya.

“Satu pertanyaan lagi, bagaimana pendapatmu tentang kemerdekaan ini?”

“ Menurutku, kemerdekaan itu gagal bila rakyatnya masih menderita, kemerdekaan itu sakit bila anak-anak negerinya masih tersakiti, dan kemerdekaan itu bohong jika pejabat dan pegawai pemerintahannya masih berfikir menguntungkan dirinya pribadi dan tak peduli pada rakyat lagi dan menurutku Indonesia masih gagal merdeka dari dirinya sendiri” Jawabnya tegas.

Lalu dia pergi tanpa menyisakan satu kata pun.

 Aku termenung dan terdiam cukup lama, lalu aku berfikir agar aku tak jadi pergi ke lapangan. Lebih baik aku pulang dan memikirkan apa yang bisa ku buat untuk membantu anak–anak negeri seperti Jhon, aku tak mau lagi jumpa anak-anak lainnya seperti Jhon di kemerdekaan Indonesia yang ke 73 tahun nanti.
 
 

 
Medan, 18 Agustus 2017       
 

SHARE!

Muhammad Rafly Ritonga

""

Follow


1 Mading


Bermain Untukku

Kategori : Cerpen

Harapanku Anak Negeri

Kategori : Cerpen

Kelamku adalah Kamu

Kategori : Cerpen