Oleh : Nadila Trisnadianty
Kategori : Karya Tulis

Hai. Namaku Rosiana, tapi biasa dipanggil Oci. Umurku 11 tahun. Aku terlahir di keluarga yang terbilang kurang mampu. Mengapa dikatakan demikian? ya memang kenyataannya begitu. Aku tinggal bersama ibu, 1 kakak perempuan dan 1 adik laki-laki. Dimanakah ayahku? ayahku telah lama meninggalkan kami sekeluarga 3 tahun yang lalu saat ia melakukan demo. Ayahku meninggal karena ia terkena tembakan dari pihak keamanan. Memang sih waktu demo kala itu bisa dikatakan tidak tertib atau bisa dibilang ricuh.Tapi aku amat sangat bangga pada ayahku, karena beliau rela mengorbankan nyawa yang ia miliki demi menyampaikan hak-hak kami (masyarakat kalangan bawah) yang belum terpenuhi. 
 
Aku tinggal di suatu kampung dimana penduduk disana hampir seluruhnya warga kurang mampu. Warga di kampungku mayoritas bekerja sebagai pemulung sampah. Sampah yang kami ambil, kami salurkan atau kami jual di tempat penampungan. Penghasilan yang biasa kami dapatkan setiap harinya itu Rp. 2000,- per kg sampah, semakin banyak atau semakin berat sampah yang kami ambil, semakin banyak pula penghasilan yang kami dapatkan. Anak-anak di kampungku itu tidak pernah mendapatkan pendidikan di sekolah. Aku dan teman-temanku itu bekerja membantu orang tua kami. Kadang kami juga sering mengamen di pinggir jalan untuk menambah penghasilan agar kebutuhan perut kami terpenuhi, alhasil waktu bermain kami berkurang.
 
Saat mengamen, aku sering sekali melihat anak-anak sepantaranku memakai baju seragam, membawa tas sekolah, memakai sepatu, dan pergi ke sekolah diantar oleh ayah ataupun ibu mereka. Sedangkan aku dan teman-temanku? boro-boro sekolah, mencukupi kebutuhan pokok saja masih kurang. Sebenarnya sih aku iri melihat anak-anak sepantaranku yang sekolah, aku iri dengan mereka yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan ilmu di sekolah tanpa harus bekerja keras membanting tulang terlebih dahulu. Tapi percuma saja aku iri, toh tidak ada yang peduli. 
 
Tapi ada satu hal yang membuatku aneh. Mereka yang masih diberi kesempatan untuk menimba ilmu di sekolah malah menyia-nyiakan kesempatan itu. Contohnya, saat waktunya masuk sekolah, mereka malah asik nongkrong di warung pinggir jalan. Padahal orang tua mereka bekerja membanting tulang agar anaknya dapat bersekolah. Hidup mereka terbilang enak, mereka mendapatkan apa yang mereka mau tanpa bekerja keras terlebih dahulu. Jika aku jadi mereka, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan emas itu dan pastinya aku akan membuat keluargaku bangga.
 
Pesanku tidak terlalu panjang. Untuk kalian yang masih bisa menikmati dan mendapatkan pendidikan di sekolah, pergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Buat orang tua kalian bangga atas apa yang kalian lakukan. Janganlah membuat mereka kecewa. Keringat yang bercucuran dari kerja keras orang tua kalian, haruslah dibayar dengan pencapaian atau hasil yang membanggakan. Buatlah orang tua kalian menangis bahagia.

SHARE!

Nadila Trisnadianty

""

Follow


1 Mading


Anak Kepri Memaknai Sumpah Pemuda

Kategori : Karya Tulis

Kids Jaman Now

Kategori : Karya Tulis

CINTA SEPOTONG ROTI JALA

Kategori : Karya Tulis

MARTABAK MANIS RASA PATAH HATI

Kategori : Karya Tulis