Oleh : deni pirmansyah karawang
Kategori : Tahukah Kamu ?

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang menyatukan seluruh rakyat bangsa Indonesia yang terdiri dari beragam suku, budaya, dan agama. Sudah seharusnya kita bangga menggunakan bahasa Indonesia. Sayangnya, sedikit demi sedikit kebanggaan terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu luntur di kalangan generasi bangsa ini. Memprihatinkan memang nasib bahasa kebanggaan kita! Di lapangan, guru-guru juga kurang peduli dengan kondisi semacam ini. Adanya kecenderungan anggapan bahwa istilah-istilah asing lebih keren jadi salah satu faktor penyebabnya, di samping rendahnya penguasaan masyarakat terhadap bahasanya sendiri, terutama dalam hal kosakata.

Kenyataan di atas kontradiktif dengan fakta kehebatan bahasa Indonesia di mata dunia. Terbukti, bahasa Indonesia dipelajari di kampus dan sekolah di beberapa negara di dunia seperti Australia, Mesir, Vietnam, dan lainnya. Terkait hal ini, dalam status resmi akun facebooknya Prof. Djoko Saryono menulis:
“Dahulu kita sudah lazim menggunakan istilah lokakarya, sanggar kerja, dan atau bengkel kerja sebagai padanan istilah workshop yang luar biasa tinggi frekuensi pemakaiannya. Nyaris semua kegiatan yang dihajatkan menghasilkan produk tertentu sekarang memakai istilah workshop, menggusur istilah lokakarya, sanggar kerja, dan atau bengkel kerja. Ini pertanda apa? Sikap bahasa Indonesia kita yang cenderung melemah? Kita makin tak percaya diri berbahasa Indonesia? Kita sedang terjangkiti snobisme, melihat segala yang asing lebih keren dan bermutu? Kedaulatan bahasa Indonesia makin rapuh? Kata teman-teman yang biasa menyusun program dan mengurusi administrasi kegiatan, kalau tidak digunakan istilah workshop, suatu kegiatan tak bisa dibiayai. Dengan kata lain, biar satu kegiatan bisa dibiayai hendaknya disebut workshop atau istilah lain yang memang disebut dalam aturan. Ini menandakan diksi dan kebenaran semantis tunduk pada kuasa administratif-f inansial ketimbang kedaulatan bahasa, sikap bahasa, dan keapikan berbahasa? Saya teringat uraian Wittgenstein ihwal rumput liar di taman bahasa. Apakah taman bahasa Indonesia kita sedang ditumbuhi rumput liar akibat kemalasan dan ketidakdisiplinan kita berbahasa Indonesia? Lebih jauh, apakah hal ini pertanda kesetiaan berbahasa kita merapuh?”

Akun bernama Ragil Cahya Maulana berkomentar, "Gejala lain yang tak kalah bikin mual adalah mewabahnya penggunaan kata sharing, baik dalam ucapan maupun tulisan, untuk menyebut aktivitas ngobrol atau bincang santai. Saya kerap menjumpai 'wabah sharing' ini justru diidap serta dikembangbiakkan oleh kelas terdidik dan bahkan juga oleh mereka yang mencemplungkan dirinya dalam gerakan literasi, baik dalam percakapan sambil lalu atau dalam acara-acara yang mereka terlibat di dalamnya. Apa ya sebegitu rendahnya marwah berbagi atau bincang bagi cangkem orang-orang terdidik itu kok mereka sampek kesusahan mengucapkan kata-kata itu kepada sesama penutur bahasa Indonesia?”

Tanggapan lain dari Widi Suharto, yang menuliskan: “Itulah keprihatinan saya yang sempat saya tulis dalam status kemarin. Ada apakah dengan yang asing? Apakah terjangkiti penyakit latah? Ataukah lemahnya orang-orang bahasa dalam mengisi celah yang memungkinkan, facebook misalnya, untuk sosialisasi kosakata yang layak?

Senada dengan Widi, Taufik Hendratmoko menulis: “Dengan semakin melemahnya kemampuan berbahasa indonesia generasi saya, diringi pula dengan semakin memudarnya pandangan hidup ketimuran kami. Karena di dalam setiap bahasa tedapat makna, di setiap makna ada nilai-nilai pandangan hidup.”

Bustan AF dengan analisis sosialnya berkomentar: “Secara sosial ruang kita untuk berbahasa Indonesia yang baik semakin sempit. Sehingga kita semakin tidak mengenali bahasa Indonesia itu sendiri. Belum lagi kecenderungan code-mixing yang semakin massif di era digital ini.”

Berbeda dengan Limus Toenlioe, ia memandangnya dari perspektif pendidikan, ia menulis: “Khusus di bidang pendidikan, setiap rezim baru akan memunculkan istilah lain, meski hakikatnya sama dengan istilah yang dipakai rezim sebelumnya. Silahkan cermati kurikulum, misalnya. Tiap kurikulum baru menggunakan istilah baru, tapi hakikatnya sama. Akibatnya, praktisi pendidikan kehilangan jejak sejarah pemahaman akademik, dengan sejumlah kerugian.

 (DEPIR)

SHARE!

deni pirmansyah karawang

"Tragedi hidup bukan ketika aku tidak dapat mencapai tujuan, tragedi sebenernya adalah ketika aku tidak mempunyai tujuan untuk dicapai. #FORUMANAKSINGAPERBANGSAKARAWANG #Salampangkalperjuangan"

Follow


19 Mading


Apa Saja Hak anak Dan Kewajiban Anak?

Kategori : Tahukah Kamu ?

PRESIDEN INDONESIA YANG TERLUPAKAN

Kategori : Tahukah Kamu ?

Indonesia Pertama Kali Merdeka Di KARAWANG

Kategori : Tahukah Kamu ?

Bahasa Indonesia vs Bahasa Asing

Kategori : Tahukah Kamu ?

Yuk Cintai Sungai Kita Kawan

Kategori : Tahukah Kamu ?