Oleh : Rifal Fadili
Kategori : Cerpen


Suatu hari saya sedang duduk di depan teras rumah.

Langit terlihat cerah tepat pada pukul 10:30 wib

Terdengar suara nyanyian merdu oleh anak-anak madrasah ibtidaiyah (MI)

Sayang nya mereka menyanyikan lagu-lagu band yg tak sebanding dengan usia mereka

Dengan respect saya sambut mereka dengan nyanyian "hey hey kemarilah adik adik" (dengan nada fals) hehehhe

Hahhahahhaha "mereka menertawakan saya"

Saya langsung bertanya

Wwaahh..kalian suara nya bagus jugaa..

Barusan lagu apa? "saya"

Lagu galau doonnkk "jawab mereka (serentak)

Galau itu apa ya? "Saya"

Gak tau...."jawab mereka (sambil malu dan tertawa)

Dengan spontan saya mengajak mereka ke tepi jalan dan menyanyikan lagu JOSHUA (DI OBOK-OBOK)

ternyata masih banyak diantara mereka yg gak tau liriknya

Seiring waktu berjalan hari ke hari saya mulai memperhatikan mereka di luar jam sekolah juga di luar rumah/pengawasan orang tua..

Ternyata mereka belum mendapatkan tempat yang layak untuk mereka bermain layaknya anak-anak di luar sana.

Saya lihat ada yg nongkrong di (warnet,rental PS juga ada yang maen di terminal bersama sopir angkutan umum)

Saya pikir ini bukan dunia mereka.

Mereka, anak-anak desa yg mempunyai hak yg sama dengan anak-anak lainnya.

Hati saya terketuk ingin mewujudkan hak mereka yg pantas

Tapi dengan cara apa?

Saya berpikir dan berpikir karena hidup di desa ini serba terbatas dan jangkauan yg tak luas.

Saya buka toko kecil/jajanan anak

Karena saya pikir dunia anak itu dunia yg serba enak.

Saya bangun toko dengan fasilitas musik/lagu-lagu anak yg dulu sering saya nyanyikan waktu saya seusia mereka..

Pada waktu itu saya lagi santai menjaga toko dan ada beberapa anak yg sedang jajan, tiba-tiba ada orang tua yg manggil anaknya,,,

Dengan teriak saya pun kaget

Hey sini HP bapak, pulang dulu bapak mau nelpon "ujar orang tua"

Saya kaget dan saya dekati mereka yg masih duduk sambil minum.

Ternyata mereka sedang asyik bermain game online menggunakan Handphone miliknya/orang tua nya

Waadduuhh..."saya" (sambil gelengkan kepala)

Saya dstu mulai berpikir dan akhirnya saya memfasilitasi toko kecil saya bukan hanya dengan musik tapi dengan permainan yg dulu pernah saya mainkan yang tanpa layar monitor atau daya listrik, seperti (bola bekeul, congklak, damdas karet) masih banyak yg lainnya

Hari demi hari mereka mulai terlihat senang dan seperti mempunyai rumah di luar rumah

Meski banyak di antara mereka yang tak tau cara memainkannya bahkan mereka baru mengenalnya, dengan sabar dan sabar saya latih mereka untuk mengenal dan bermain permainan anak zaman dulu

Karena ini bisa membantu beban orang tua juga perkembangan anak ketika mereka diluar.

Saya senang melihat mereka mulai bernyanyi mengikuti alunan musik anak yg sering saya putarkan di toko kecil milik saya.

Saya senang melihat mereka tidak lagi bermain HP orang tua nya

Ini lah kemerdekaan yang saya rasakan juga dapatkan, mengokohkan/mengembalikan apa yang hampir hilang di bangsa ini bahkan itu telah hilang saya kembalikan dan saya wariskan kepda anak-anak yang hidup di desa karena mereka salah satu aset bangsa.

Anak desa itu anak yang harus merdeka dan anak yang pantas mendapatkan hak nya seperti anak-anak lainnya

Karena mereka telah meraih kelayakan hidup nya dengan wadah dan dunia mereka yang pantas tanpa ada nya jajahan technology,music, atau pergaulan yg tak wajar.
Hidup anak desa untuk bangsa

SHARE!

Rifal Fadili

"Senangnya bermain bersama anak dengan hati"

Follow


1 Mading


NOVEMBER RAIN

Kategori : Cerpen

Hujan Adalah Kebahagiaan Ku

Kategori : Cerpen

"Aku dan Leukimia"

Kategori : Cerpen